Siapa saya
Uli Kozok, Associate Professor di University of Hawaii at Manoa. Pemerhati bahasa dan budaya Indonesia. Silakan singgah di laman pribadi saya http://ulikozok.com atau laman Universitas Hawaii.
Laman saya lainnya termasuk Ferienhaus Norden (Ostfriesland)
Terima kasih Prof Uli Kozok sudah membuka file-file Missionaris RMG dan menambah wawasan serta perspektif baru dalam sejarah batak.
jeffar Lumban Gaol
6 Oktober 2009 pada 08:39
Pak Uli, terimakasih atas artikel-artikel anda. Saya bisa melihat pendapat orang dari sisi yang lain terhadap sejarah misi dan kolonialisme di tanah Batak. Hanya saja saya merasa anda terlalu memandang negatif Nommensen dan misinya di tanah Batak. Bagi saya dia patut disebut sebagai pahlawan, karena pelayanannya di tanah Batak menghasilkan kebaikan yang luarbiasa bagi suku Batak. Terimakasih!
Dame Simanjuntak
12 Oktober 2009 pada 00:09
Terima kasih atas komentarnya. Saya hanya ingin menyoroti sisi yang lain yang terlalu sering dilupakan. Saya sendiri menganggap pemujaan terhadap Nommensen seperti yang dilakukan sebagian orang Batak agak di luar proporsi dan juga tidak adil: Nommensen dianggap pahlawan sedangkan misionaris lainnya namanya saja tidak diingat dan jasa mereka seolah-olah tak ada.
Yang paling menggelikan ada pendapat sebagaimana diutarakan TB Silalahi: “Kalau dulu Apostel Nommensen tidak datang ke sini, mungkin kita orang Batak masih memakai cawat sampai sekarang.” Sebelum Nommensen datang orang Batak sudah mengenal masyarakat yang majemuk yang memiliki sistem tulisan sendiri. Orang Batak sungguh tidak seprimitif sebagaimana digambarkan oleh para misionaris.
Sekali lagi terima kasih atas tanggapan Saudara.
Uli Kozok
12 Oktober 2009 pada 01:31
Sudah benar yang dikatakan TB Silalahi.
Kira-kira kemajuan apa yang sudah diperoleh Kaum Batak saat itu saat bertetangga dengan Aceh dan Padang? Sistem tulisan sendiri? bukankah itu hanya pertanda bahwa kaum Batak masuk periode sejarah?
Apa kemajuan yang sudah dicapai? sefanatis apapun orang Batak akan kebatakannya pasti dia sadari sejarahnya yang asli.
Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon justru tidak tercapai saat batak klasik melainkan saat I L. Nommensen memulai era Batak Modern
wajar saja andaikan I. L. Nommensen dianggap sebagai Apostel batak karena dialah yang berani masuk ke tanah batak setelah Burton dan Ward mundur, dan maju hingga akhir hayatnya, misionaris lain tidak dilupakan seperti Bentz maupun heine, tetapi porsi Nommensen lebih besar dan kuat pengaruhnya untuk orang batak.
Y. S. L. R.
7 Oktober 2010 pada 20:36
Saya menemukan dan membaca:
THE ENCOUNTER OF THE BATAK PEOPLE
WITH RHEINISCHE MISSIONS-GESELLSCHAFT
IN THE FIELD OF EDUCATION (1861-1940)
a historical-theological inquiry
Jan Sihar Aritonang, 15 Juni 2000
“ADVANCE THROUGH STORM”: 1915-1940 (kemungkinan juga ditulis oleh Jan Sahar Aritonang)
Dan menangkap garis-garis besar pemikiran Anda sejalan dengan kesimpulan dari tulisan Pak Aritonang tersebut. Hanya Pak Aritonang juga mencatat hal-hal positif dari pendidikan oleh RMG. Dalam hal ini saya pikir mungkin pemikiran teologi RMG pada saat itu memang sampai tahap demikian dalam hal tingkatan derajat budaya dan ras. Bias bisa terjadi karena pengetahuan kita tidak sempurna dan tetap perlu reformasi. Bias terjadi pada hemat kami tidak mengurangi nilai benih ajaran yang tertanam dan terlihat begitu RMG tidak memegang komando lagi, pemimpin lokal bisa mengambil alih tanggung jawab.
Tulisan-tulisan itu juga menunjukkan meskipun ada subsidi pada masa kolonial, sistem pendidikan RMG dan pemerintahan Hindia Belanda ada konflik dan saling menyesuaikan. Dapat terlihat pada awalnya tertanya sistem pendidikan RMG sangat berbasis komunitas dan didukung pembiayaannya oleh komunitas umat misinya.
Komentar Anda:
“Orang Batak sungguh tidak seprimitif sebagaimana digambarkan oleh para misionaris” – apakah ada surat atau Berichte yang bisa dirujuk, misalnya laporan Nommensen tentang itu?
Terima kasih.
Ating Yahja
27 Agustus 2011 pada 18:21
lae Uli,
tolong dipertahankan situs ini, jangan sampai hilang! situs ini sangat penting untuk kalangan Bangsa Batak khususnya Batak Toba yang serius ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada saat Nommensen masuk ke Tano Batak. situs ini sangat penting jugak kerna merupakan sebuah sumber informasi historis di luar “sejarah” versi HKBP. tujuan kita adalah belajar Sejarah yang sebenarnya dari Bangsa kita yaitu Bangsa Batak! tak ada yang lebih penting bagi seorang Batak Sejati kecuali Kebatakannya!!!
mauliate godang buat informasi dan situs ini! horas jala gabe!!!
Saut Situmorang
4 Februari 2010 pada 16:40
Horas…!!!
Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Saut Situmorang, situs ini harus tetap dipertahankan bahkan dikembangkan lebih lanjut. Mengingat betapa pentingnya bagi kita khususnya masyarakat Batak mengetahui dan memahami sejarah Bangsa Batak sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran pandangan mengenai hal-hal yang menyangkut budaya Batak.
Kepada Pak Uli, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang cukup besar bagi budaya Batak.
Kami menantikan postikan Bapak yang selanjutnya.
Selamat berkarya.
Horas…
Rinaldi Rumapea
15 April 2010 pada 11:46
Saya sebagai putra Batak merasa terkejut dan terperangah..betapa kejinya Belanda keparat yang gila kekuasaan dan Nommensen Jerman sebagai anjing herdernya..mereka ternyata pembunuh masyarakat awam tak berdosa dan HKBP sebagai perpanjangan tangan RMG Jerman ternyata warisan dari mereka. Saya merasa sekarang bahwa mereka memutarbalikkan fakta dan sejarah dan menyesatkan sejarah Batak. Untung saya bukan HKBP..dan semoga HKBP dan Nommensennya hancur diguncang Gempa Tarutung, pantas saja Tarutung selalu diguncang GEMPA rupanya Mula jadi Nabolon berkehendak lain.. Mauliate lae ULI KOZOK dan penghargaan dari saya, saya anggap lae sebagai orang Batak. Maaf saya menyebut Jerman itu karena emosi saya sebagai darah Muda Batak..
Lambas Tony Pasaribu
21 April 2010 pada 16:40
Sdr. Lambas, saya tidak tahu apa agama Anda tetapi saya merasa kurang enak dengan tuduhan Anda terhadap HKBP.
Walaupun HKBP sekarang selalu membela Nommensen dan menganggapnya sebagai nabi, kalau kita melihat kembali pada sejarah awal HKBP maka jelas bahwa banyak anggota dan tokoh HKBP sangat tidak setuju dengan kebijakan zending (Jerman) yang menganggap Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon sebagai 3 dosa terbesar dan mencela upaya orang Batak untuk mengejar Hamajuon. Banyak orang Batak, termasuk dari pihak HKBP, juga tidak setuju dengan Nommensen yang ingin membinasakan budaya Batak secara total.
Nommensen juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda karena Nommensen punya misi sendiri dan tidak mudah diperalat Belanda. Nommensen sering berbeda pendapat dengan Belanda. Belanda ingin supaya orang Batak belajar bahasa Indonesia (pada zaman itu masih disebut Melayu), Nommensen sangat tidak setuju. Di sisi lain Nommensen setuju bahwa Belanda (sebagai salah satu bangsa Germania yang terpilih oleh Tuhan) mempunyai hak untuk menjajah bangsa berkulit cokelat yang dianggapnya minder.
Uli Kozok
22 April 2010 pada 10:42
Anda aneh. Jelas sekali aneh!
Anda coba kaitkan pendapat Von Rohden dengan Fabri lalu seolah-olah I. L. Nommensen juga berpikiran sama dengan mereka berdua, hanya karena mereka sama2 RMG, bukankah anda sendiri yang katakan bahwa “Nommensen juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda karena Nommensen punya misi sendiri dan tidak mudah diperalat Belanda.”
“mempunyai hak untuk menjajah bangsa berkulit cokelat yang dianggapnya minder.”
Dia belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda. Dia juga menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak
Bila saya seorang Batak dalam sisuasi kondisional saya tidak mau belajar bahasa melayu, bila hal itu mempengaruhi Kekristenan, sebagai misionaris saya juga akan berpikir sama.
Bila saya harus belajar bahasa Indonesia sekarang juga kondisional saja karena pemerintah yang mewajibkan hal itu, bukan nilai-nilai Batak saya.
Entah kenapa anda memilih Batak sebagai wacana, sedangkan Pembantaian Tuanku Rao dan Imam Bonjol dengan faham wahabinya membantai Kaum Batak Kristen tidak anda angkat.
Y. S. L. R.
7 Oktober 2010 pada 20:21
Yth. DR. Uli Kozok
Saya mendapatkan data dan gambar / Photo tahun 1890 “Radja Israel” dari google di KITLV Belanda.
Dan menurut keterangan dan silsilah Keluarga Sinaga di Prapat ( Tulang ) dan Opung Doli Tuan Labuhan Asmin Damanik Jambur Na Bolag Sipolha dan Puang Bolon / Opung Boru Saya Jinim Sophia Boru Sinaga adalah putri satu-satunya dan 8 laki-laki anak beliau ( Radja Israel Sinaga ). Beliau adalah Kristen pertama di Prapat dan bergelar Sintua Radja Israel Sinaga , adik kandung dari Raja Ompu Bangbang / Raja Galumbang Laut Tawar Sinaga Prapat dan anak ketujuh (bungsu) dari Raja Ompu Togadolok Sinaga Sidabariba Parapat.
Kami mohon DR. Uli Kozok meneliti beliau Sintua Radja Israel Sinaga, karena beliau termasuk pemimpin / pelindung / raja Kristen pertama di Prapat di tepian Danau Toba.
Terima Kasih, Hormat Kami.GBU. Amien
Parlindungan Damanik
10 Juli 2010 pada 06:20
Gak akan itu lae, paling tentang pembantaian belanda yang dikaitkan dengan RMG lalu dikaitkan dengan Nommensen.. bla bla
Padahal katanya I. L. Nommensen “juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda”
miring..
Y. S. L. R.
7 Oktober 2010 pada 20:40
Mohon supaya tetap menjaga kesopan-santunan bila ikut diskusi pada blog ini. Beda pendapat boleh saja, asal pakai argumentasi dan bukan polemik.
Bahwa Nommensen pada hakikatnya memiliki pandangan dengan Fabri dan Rohden kelihatan jelas pada tulisan dan terutama tindakan Nommensen. Hal tersebut akan saya uraikan secara lebih mendalam dalam buku Utusan Damai versi baru yang segera akan diterbitkan oleh EFEO Jakarta. Dalam buku tersebut saya menambahkan beberapa bab yang 1) menguraikan secara lebih mendalam paham-paham yang sangat menentukan pemikiran orang Jerman pada pertengahan abad ke-19, yaitu nasionalisme dan rasisme, dan 2) perbandingan dengan zending RMG di Afrika.
Terus, soal perang padri yang Anda angkat itu, bukankah Anda tahu bahwa perang itu berlangsung sebelum kedatangan misionaris? Tiada satu pun Kristen Batak yang dibantai oleh Padri karena pada waktu itu belum ada seorang Batak pun yang beragama Kristen!
uli Kozok
7 Oktober 2010 pada 21:30
Ada Pahlawan yang tidak harus , sekali lagi tidak harus di Publikasikan, karena bila diangkat kepermukaan, maka akan sulit untuk diungkapkan dan di analisa. Ada Motto ” Bila kau sukses, Kau tidak akan mendapat Kalungan Bunga / Ucapan Selamat , Tetapi bila kau gagal , kau akan di caci maki “. Begitu pula dengan Radja Israel Sinaga Prapat
lihat Raja Israel Sinaga dalam http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/surat-metzler/ dan http://ulikozok.wordpress.com/?s=israel dan http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/laporan-nommensen/ dan musium KITLV Leiden photo tahun1890 di http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=eenvoudigdistkitlv&onderwerp=+indigenous+administration&rpp=6&cp=77&resultplugin=gallerysmall
Terima Kasih Kepada Prof DR. Uli Kozok dalam menggali ” Habonaron Do Bona “. GBU. Amin.
Parlindungan Damanik
8 Oktober 2010 pada 15:39
Horas di hita saluhut.
Ai boasa dang boi tapatudu etiket? Aha pe naung dibaritahon Donganta Si Uli Kozok, dang pola gabe muruk hita bahenon ni i. Ai jala muse, marhite penelitian do ibana manurathon sejarah taringot tu Batak.
Santabi di laenta namandok “anjing herder”, tarsongon tabiat ni lae ma ra Batak najolo andorang so ro hakristenon, jorbut songon BINATANG! (santabi lae). Porlu ingotomu: GUMODANG DO JASA NI ULI KOZOK tu bangso BATAK dibandinghon pambahenammu. Songon bahasa ni TERORIS bahasam!
Sahali nai, mauliate Lae Uli Kozok!
Horas
Naraja
http://www.bataica.com
patuan naraja
15 November 2010 pada 08:49
hahahaha …. bos jadi ikut2an esmoni dengan mengeluarkan komentar yang cukup sarkasme.
. Gabe dang adong bedana.
;);).
@DR Uli Kozok : tlg bls email saya. saya kirim ke kozok@hawaii.edu.
Hengky T. Sihotang
27 Januari 2011 pada 22:35
Terima kasih sangat banyak pada DR Uli Kozok. Bukunya udah kubeli ketika ada pameran di Landmark Bandung bulan lalu. Baru kali ini saya membaca buku yang demikian, karena jarang sekali peneliti sejarah menuliskan hal-hal seputar Perang Toba dikaitkan dengan Ompui Nommensen. Buku itu menambah perspektif kita tentang situasi tatkala Nommensen menjalankan missinya mengkristenkan halak hita. Buat Tulang Uli, (manjou Tulang ma jo iba ate), tolong Tulang gali dan terjemahkan lagi naskah-naskah kuno tentang Batak dan budayanya yang bertebaran di museum atau kolportase Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Salam hormat saya buat Tulang Uli Kozok
Johnson Sitorus
4 Maret 2011 pada 08:45
Pak Uli, saya mengundang Anda untuk menulis di Wikipedia Bahasa Indonesia, terutama pada artikel Nommensen dan Sejarah masuknya Kekristenan ke suku Batak
kia
9 Maret 2011 pada 05:40
Pak Uli, coba anda dalami kronologis2 tersebut secara politis. Dulu itu selain upaya perang antara pribumi thdp kolonialisme berjalan, terjadi jg perang penyebaran agama. Sy punya analisa bhw Nommensen atau siapapun itu misonaris Kristen lainnya, mencoba menghadang pengaruh Islam dalam ranah misinonarisnya. Mrk pasti bersaing dgn penyebaran Islam. Islam itu mengepung dari Utara (Aceh) dan dari Selatan (Padang) mrk diperkuat jg dengan pasukan yg siap perang. Jd krn mrk sdh mengetahui bhw Sisingamangaraja sdh minta bantuan pada Aceh para misionaris Kristen ini yakin bahwa bantuan yg dr Aceh itu pasti diboncengi dengan target harus menghadang penyebaran agama kristen. Bgmn analisa sy pa Uli?
Barrus
19 Mei 2011 pada 10:42
Dear Bapak Uli Kozok,
Saya baru mengikuti topik ini dan belum berhasil mendapat Buku maupun e-book Bapak.
Saya mau tanya tentang Rumor di beberapa blog yang mengatakan bahwa Raja Sisingamangaraja adalah Muslim, dilihat dari kedkatannya dengan Aceh dan Cap/Lambang Kerajaan Sisingamangaraja. Bagaimana tanggapan Bapak tentang hal tersebut??
Mauliate
Tamlin Sianturi
tamlinsianturinturi
20 Oktober 2011 pada 15:28
Desas-desus tersebut sengaja disebarkan oleh para misionaris untuk meyakinkan pemerintah kolonial bahwa sudah tiba saatnya untuk menindak SSM. Sama sekali tidak ada bukti bahwa SSM pernah masuk Islam.
Uli Kozok
20 Oktober 2011 pada 18:53
Saya kira Pak Uli, pem-bahasa-an Anda kurang tepat. Pendapat saya:
“kegelisahan para pekerja misi oleh karena laporan-laporan yang mereka dapat dari wilayah SSM, Aceh, dan Padang membuat mereka (sebagai orang Barat) meminta perlindungan kepada Belanda. Atau kalau mau keraspun adalah: mereka mendesak dan memberi nasihat kepada pihak Belanda untuk menguasai atau mengaktifkan administrasi pemerintahan kolonial wilayah tempat mereka bertugas.”
Iya, tidak ada catatan yang bisa membuktikan ia apakah beragama apa karena dia tidak punya KTP yang harus mencantumkan agamanya pada KTP tersebut. Pertanyaan agama apa SSM XII tidak bermanfaat, sebaiknya ditanyakan apa pandangan SSM XII tentang Tuhan, manusia, dan kewajiban ruhaniah hidupnya.
Ating Yahja
22 Oktober 2011 pada 07:21