Catatan Dr. Uli Kozok

Pemerhati Bahasa dan Budaya

Siapa saya

with 47 comments

Uli Kozok,  Professor di University of Hawaii at Manoa. Pemerhati bahasa dan budaya Indonesia. Silakan singgah di laman pribadi saya http://ulikozok.com atau laman Universitas Hawaii.
Laman saya lainnya termasuk Ferienhaus Norden (Ostfriesland) dan Holiday Home Auckland

Iklan

Written by Uli Kozok

4 Juli 2009 pada 07:31

47 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terima kasih Prof Uli Kozok sudah membuka file-file Missionaris RMG dan menambah wawasan serta perspektif baru dalam sejarah batak.

    jeffar Lumban Gaol

    6 Oktober 2009 at 08:39

  2. Pak Uli, terimakasih atas artikel-artikel anda. Saya bisa melihat pendapat orang dari sisi yang lain terhadap sejarah misi dan kolonialisme di tanah Batak. Hanya saja saya merasa anda terlalu memandang negatif Nommensen dan misinya di tanah Batak. Bagi saya dia patut disebut sebagai pahlawan, karena pelayanannya di tanah Batak menghasilkan kebaikan yang luarbiasa bagi suku Batak. Terimakasih!

    Dame Simanjuntak

    12 Oktober 2009 at 00:09

    • Terima kasih atas komentarnya. Saya hanya ingin menyoroti sisi yang lain yang terlalu sering dilupakan. Saya sendiri menganggap pemujaan terhadap Nommensen seperti yang dilakukan sebagian orang Batak agak di luar proporsi dan juga tidak adil: Nommensen dianggap pahlawan sedangkan misionaris lainnya namanya saja tidak diingat dan jasa mereka seolah-olah tak ada.
      Yang paling menggelikan ada pendapat sebagaimana diutarakan TB Silalahi: “Kalau dulu Apostel Nommensen tidak datang ke sini, mungkin kita orang Batak masih memakai cawat sampai sekarang.” Sebelum Nommensen datang orang Batak sudah mengenal masyarakat yang majemuk yang memiliki sistem tulisan sendiri. Orang Batak sungguh tidak seprimitif sebagaimana digambarkan oleh para misionaris.
      Sekali lagi terima kasih atas tanggapan Saudara.

      Uli Kozok

      12 Oktober 2009 at 01:31

      • Sudah benar yang dikatakan TB Silalahi.

        Kira-kira kemajuan apa yang sudah diperoleh Kaum Batak saat itu saat bertetangga dengan Aceh dan Padang? Sistem tulisan sendiri? bukankah itu hanya pertanda bahwa kaum Batak masuk periode sejarah?

        Apa kemajuan yang sudah dicapai? sefanatis apapun orang Batak akan kebatakannya pasti dia sadari sejarahnya yang asli.

        Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon justru tidak tercapai saat batak klasik melainkan saat I L. Nommensen memulai era Batak Modern

        wajar saja andaikan I. L. Nommensen dianggap sebagai Apostel batak karena dialah yang berani masuk ke tanah batak setelah Burton dan Ward mundur, dan maju hingga akhir hayatnya, misionaris lain tidak dilupakan seperti Bentz maupun heine, tetapi porsi Nommensen lebih besar dan kuat pengaruhnya untuk orang batak.

        Y. S. L. R.

        7 Oktober 2010 at 20:36

      • Saya menemukan dan membaca:

        THE ENCOUNTER OF THE BATAK PEOPLE
        WITH RHEINISCHE MISSIONS-GESELLSCHAFT
        IN THE FIELD OF EDUCATION (1861-1940)
        a historical-theological inquiry
        Jan Sihar Aritonang, 15 Juni 2000

        “ADVANCE THROUGH STORM”: 1915-1940 (kemungkinan juga ditulis oleh Jan Sahar Aritonang)

        Dan menangkap garis-garis besar pemikiran Anda sejalan dengan kesimpulan dari tulisan Pak Aritonang tersebut. Hanya Pak Aritonang juga mencatat hal-hal positif dari pendidikan oleh RMG. Dalam hal ini saya pikir mungkin pemikiran teologi RMG pada saat itu memang sampai tahap demikian dalam hal tingkatan derajat budaya dan ras. Bias bisa terjadi karena pengetahuan kita tidak sempurna dan tetap perlu reformasi. Bias terjadi pada hemat kami tidak mengurangi nilai benih ajaran yang tertanam dan terlihat begitu RMG tidak memegang komando lagi, pemimpin lokal bisa mengambil alih tanggung jawab.

        Tulisan-tulisan itu juga menunjukkan meskipun ada subsidi pada masa kolonial, sistem pendidikan RMG dan pemerintahan Hindia Belanda ada konflik dan saling menyesuaikan. Dapat terlihat pada awalnya tertanya sistem pendidikan RMG sangat berbasis komunitas dan didukung pembiayaannya oleh komunitas umat misinya.

        Komentar Anda:
        “Orang Batak sungguh tidak seprimitif sebagaimana digambarkan oleh para misionaris” – apakah ada surat atau Berichte yang bisa dirujuk, misalnya laporan Nommensen tentang itu?

        Terima kasih.

        Ating Yahja

        27 Agustus 2011 at 18:21

      • dari mana anda tau ompung kami dulunya dijumpai orang barat pertama/orang luar pertama ke tanah batak bahwa ompung kami cuma pake cawat? sungguh berani sekali anda bilang begitu , sedangkan dlm kemasukan roh Allah saja orang Batak bisa menciptakan alat tenun kuno, cara memintal benang,mewarnai benang lalu menenunnya menjadi kain? itu namanya dalam bahasa batak tondi parningaion martonun. Bumi ini bisa berlalu dan berganti peradabana tapi tondi parningaiaon itu akan tetap ada dan bisa dipanggil lewat gondang Batak. maksud anda orang Batak tak bertuhankan sehingga tak minta Tuhan mengajarinya membuat kain? Udalah Uli Kozok, pemikiran anda tak akan sampe memikirkan habatahon, senior anda saja Antony Reidd menyerah ko, dia bilang; “Batak is mistery’. Hahhahhahah

        Ron Li Tambunan

        5 Agustus 2016 at 10:07

      • Komentar Ron Li membingungkan. Di mana pernah saya bilang orang Batak hanya pakai cawat? Tentu saja orang Batak sudah mengenal pertenunan bahkan jauh sebelum Belanda datang.

        Uli Kozok

        5 Agustus 2016 at 11:54

  3. lae Uli,

    tolong dipertahankan situs ini, jangan sampai hilang! situs ini sangat penting untuk kalangan Bangsa Batak khususnya Batak Toba yang serius ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada saat Nommensen masuk ke Tano Batak. situs ini sangat penting jugak kerna merupakan sebuah sumber informasi historis di luar “sejarah” versi HKBP. tujuan kita adalah belajar Sejarah yang sebenarnya dari Bangsa kita yaitu Bangsa Batak! tak ada yang lebih penting bagi seorang Batak Sejati kecuali Kebatakannya!!!

    mauliate godang buat informasi dan situs ini! horas jala gabe!!!

    Saut Situmorang

    4 Februari 2010 at 16:40

  4. Horas…!!!
    Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Saut Situmorang, situs ini harus tetap dipertahankan bahkan dikembangkan lebih lanjut. Mengingat betapa pentingnya bagi kita khususnya masyarakat Batak mengetahui dan memahami sejarah Bangsa Batak sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran pandangan mengenai hal-hal yang menyangkut budaya Batak.
    Kepada Pak Uli, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang cukup besar bagi budaya Batak.
    Kami menantikan postikan Bapak yang selanjutnya.
    Selamat berkarya.
    Horas…

    Rinaldi Rumapea

    15 April 2010 at 11:46

  5. Saya sebagai putra Batak merasa terkejut dan terperangah..betapa kejinya Belanda keparat yang gila kekuasaan dan Nommensen Jerman sebagai anjing herdernya..mereka ternyata pembunuh masyarakat awam tak berdosa dan HKBP sebagai perpanjangan tangan RMG Jerman ternyata warisan dari mereka. Saya merasa sekarang bahwa mereka memutarbalikkan fakta dan sejarah dan menyesatkan sejarah Batak. Untung saya bukan HKBP..dan semoga HKBP dan Nommensennya hancur diguncang Gempa Tarutung, pantas saja Tarutung selalu diguncang GEMPA rupanya Mula jadi Nabolon berkehendak lain.. Mauliate lae ULI KOZOK dan penghargaan dari saya, saya anggap lae sebagai orang Batak. Maaf saya menyebut Jerman itu karena emosi saya sebagai darah Muda Batak..

    Lambas Tony Pasaribu

    21 April 2010 at 16:40

    • Sdr. Lambas, saya tidak tahu apa agama Anda tetapi saya merasa kurang enak dengan tuduhan Anda terhadap HKBP.

      Walaupun HKBP sekarang selalu membela Nommensen dan menganggapnya sebagai nabi, kalau kita melihat kembali pada sejarah awal HKBP maka jelas bahwa banyak anggota dan tokoh HKBP sangat tidak setuju dengan kebijakan zending (Jerman) yang menganggap Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon sebagai 3 dosa terbesar dan mencela upaya orang Batak untuk mengejar Hamajuon. Banyak orang Batak, termasuk dari pihak HKBP, juga tidak setuju dengan Nommensen yang ingin membinasakan budaya Batak secara total.

      Nommensen juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda karena Nommensen punya misi sendiri dan tidak mudah diperalat Belanda. Nommensen sering berbeda pendapat dengan Belanda. Belanda ingin supaya orang Batak belajar bahasa Indonesia (pada zaman itu masih disebut Melayu), Nommensen sangat tidak setuju. Di sisi lain Nommensen setuju bahwa Belanda (sebagai salah satu bangsa Germania yang terpilih oleh Tuhan) mempunyai hak untuk menjajah bangsa berkulit cokelat yang dianggapnya minder.

      Uli Kozok

      22 April 2010 at 10:42

      • Anda aneh. Jelas sekali aneh!

        Anda coba kaitkan pendapat Von Rohden dengan Fabri lalu seolah-olah I. L. Nommensen juga berpikiran sama dengan mereka berdua, hanya karena mereka sama2 RMG, bukankah anda sendiri yang katakan bahwa “Nommensen juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda karena Nommensen punya misi sendiri dan tidak mudah diperalat Belanda.”

        “mempunyai hak untuk menjajah bangsa berkulit cokelat yang dianggapnya minder.”

        Dia belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda. Dia juga menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak

        Bila saya seorang Batak dalam sisuasi kondisional saya tidak mau belajar bahasa melayu, bila hal itu mempengaruhi Kekristenan, sebagai misionaris saya juga akan berpikir sama.

        Bila saya harus belajar bahasa Indonesia sekarang juga kondisional saja karena pemerintah yang mewajibkan hal itu, bukan nilai-nilai Batak saya.

        Entah kenapa anda memilih Batak sebagai wacana, sedangkan Pembantaian Tuanku Rao dan Imam Bonjol dengan faham wahabinya membantai Kaum Batak Kristen tidak anda angkat.

        Y. S. L. R.

        7 Oktober 2010 at 20:21

      • Uli Kozok..HKBP tidak pernah menganggap IL Nomensen sebagai nabi..Nabi dengan Apostel itu beda..Anda juga tolong dijaga bicaranya..

        Djandel Marbun

        5 Januari 2015 at 07:09

  6. Yth. DR. Uli Kozok

    Saya mendapatkan data dan gambar / Photo tahun 1890 “Radja Israel” dari google di KITLV Belanda.
    Dan menurut keterangan dan silsilah Keluarga Sinaga di Prapat ( Tulang ) dan Opung Doli Tuan Labuhan Asmin Damanik Jambur Na Bolag Sipolha dan Puang Bolon / Opung Boru Saya Jinim Sophia Boru Sinaga adalah putri satu-satunya dan 8 laki-laki anak beliau ( Radja Israel Sinaga ). Beliau adalah Kristen pertama di Prapat dan bergelar Sintua Radja Israel Sinaga , adik kandung dari Raja Ompu Bangbang / Raja Galumbang Laut Tawar Sinaga Prapat dan anak ketujuh (bungsu) dari Raja Ompu Togadolok Sinaga Sidabariba Parapat.

    Kami mohon DR. Uli Kozok meneliti beliau Sintua Radja Israel Sinaga, karena beliau termasuk pemimpin / pelindung / raja Kristen pertama di Prapat di tepian Danau Toba.

    Terima Kasih, Hormat Kami.GBU. Amien

    Parlindungan Damanik

    10 Juli 2010 at 06:20

    • Gak akan itu lae, paling tentang pembantaian belanda yang dikaitkan dengan RMG lalu dikaitkan dengan Nommensen.. bla bla

      Padahal katanya I. L. Nommensen “juga jelas bukan “anjing herdernya” Belanda”

      miring..

      Y. S. L. R.

      7 Oktober 2010 at 20:40

      • Mohon supaya tetap menjaga kesopan-santunan bila ikut diskusi pada blog ini. Beda pendapat boleh saja, asal pakai argumentasi dan bukan polemik.
        Bahwa Nommensen pada hakikatnya memiliki pandangan dengan Fabri dan Rohden kelihatan jelas pada tulisan dan terutama tindakan Nommensen. Hal tersebut akan saya uraikan secara lebih mendalam dalam buku Utusan Damai versi baru yang segera akan diterbitkan oleh EFEO Jakarta. Dalam buku tersebut saya menambahkan beberapa bab yang 1) menguraikan secara lebih mendalam paham-paham yang sangat menentukan pemikiran orang Jerman pada pertengahan abad ke-19, yaitu nasionalisme dan rasisme, dan 2) perbandingan dengan zending RMG di Afrika.

        Terus, soal perang padri yang Anda angkat itu, bukankah Anda tahu bahwa perang itu berlangsung sebelum kedatangan misionaris? Tiada satu pun Kristen Batak yang dibantai oleh Padri karena pada waktu itu belum ada seorang Batak pun yang beragama Kristen!

        uli Kozok

        7 Oktober 2010 at 21:30

  7. Ada Pahlawan yang tidak harus , sekali lagi tidak harus di Publikasikan, karena bila diangkat kepermukaan, maka akan sulit untuk diungkapkan dan di analisa. Ada Motto ” Bila kau sukses, Kau tidak akan mendapat Kalungan Bunga / Ucapan Selamat , Tetapi bila kau gagal , kau akan di caci maki “. Begitu pula dengan Radja Israel Sinaga Prapat
    lihat Raja Israel Sinaga dalam http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/surat-metzler/ dan https://ulikozok.wordpress.com/?s=israel dan http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/laporan-nommensen/ dan musium KITLV Leiden photo tahun1890 di http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&searchplugin=eenvoudigdistkitlv&onderwerp=+indigenous+administration&rpp=6&cp=77&resultplugin=gallerysmall

    Terima Kasih Kepada Prof DR. Uli Kozok dalam menggali ” Habonaron Do Bona “. GBU. Amin.

    Parlindungan Damanik

    8 Oktober 2010 at 15:39

  8. Horas di hita saluhut.

    Ai boasa dang boi tapatudu etiket? Aha pe naung dibaritahon Donganta Si Uli Kozok, dang pola gabe muruk hita bahenon ni i. Ai jala muse, marhite penelitian do ibana manurathon sejarah taringot tu Batak.

    Santabi di laenta namandok “anjing herder”, tarsongon tabiat ni lae ma ra Batak najolo andorang so ro hakristenon, jorbut songon BINATANG! (santabi lae). Porlu ingotomu: GUMODANG DO JASA NI ULI KOZOK tu bangso BATAK dibandinghon pambahenammu. Songon bahasa ni TERORIS bahasam!

    Sahali nai, mauliate Lae Uli Kozok!

    Horas

    Naraja
    http://www.bataica.com

    patuan naraja

    15 November 2010 at 08:49

    • hahahaha …. bos jadi ikut2an esmoni dengan mengeluarkan komentar yang cukup sarkasme. :). Gabe dang adong bedana. ;););).

      @DR Uli Kozok : tlg bls email saya. saya kirim ke kozok@hawaii.edu. 😉

      Hengky T. Sihotang

      27 Januari 2011 at 22:35

  9. Terima kasih sangat banyak pada DR Uli Kozok. Bukunya udah kubeli ketika ada pameran di Landmark Bandung bulan lalu. Baru kali ini saya membaca buku yang demikian, karena jarang sekali peneliti sejarah menuliskan hal-hal seputar Perang Toba dikaitkan dengan Ompui Nommensen. Buku itu menambah perspektif kita tentang situasi tatkala Nommensen menjalankan missinya mengkristenkan halak hita. Buat Tulang Uli, (manjou Tulang ma jo iba ate), tolong Tulang gali dan terjemahkan lagi naskah-naskah kuno tentang Batak dan budayanya yang bertebaran di museum atau kolportase Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Salam hormat saya buat Tulang Uli Kozok

    Johnson Sitorus

    4 Maret 2011 at 08:45

  10. Pak Uli, saya mengundang Anda untuk menulis di Wikipedia Bahasa Indonesia, terutama pada artikel Nommensen dan Sejarah masuknya Kekristenan ke suku Batak

    kia

    9 Maret 2011 at 05:40

  11. Pak Uli, coba anda dalami kronologis2 tersebut secara politis. Dulu itu selain upaya perang antara pribumi thdp kolonialisme berjalan, terjadi jg perang penyebaran agama. Sy punya analisa bhw Nommensen atau siapapun itu misonaris Kristen lainnya, mencoba menghadang pengaruh Islam dalam ranah misinonarisnya. Mrk pasti bersaing dgn penyebaran Islam. Islam itu mengepung dari Utara (Aceh) dan dari Selatan (Padang) mrk diperkuat jg dengan pasukan yg siap perang. Jd krn mrk sdh mengetahui bhw Sisingamangaraja sdh minta bantuan pada Aceh para misionaris Kristen ini yakin bahwa bantuan yg dr Aceh itu pasti diboncengi dengan target harus menghadang penyebaran agama kristen. Bgmn analisa sy pa Uli?

    Barrus

    19 Mei 2011 at 10:42

  12. Dear Bapak Uli Kozok,

    Saya baru mengikuti topik ini dan belum berhasil mendapat Buku maupun e-book Bapak.

    Saya mau tanya tentang Rumor di beberapa blog yang mengatakan bahwa Raja Sisingamangaraja adalah Muslim, dilihat dari kedkatannya dengan Aceh dan Cap/Lambang Kerajaan Sisingamangaraja. Bagaimana tanggapan Bapak tentang hal tersebut??

    Mauliate

    Tamlin Sianturi

    tamlinsianturinturi

    20 Oktober 2011 at 15:28

  13. Desas-desus tersebut sengaja disebarkan oleh para misionaris untuk meyakinkan pemerintah kolonial bahwa sudah tiba saatnya untuk menindak SSM. Sama sekali tidak ada bukti bahwa SSM pernah masuk Islam.

    Uli Kozok

    20 Oktober 2011 at 18:53

    • Saya kira Pak Uli, pem-bahasa-an Anda kurang tepat. Pendapat saya:
      “kegelisahan para pekerja misi oleh karena laporan-laporan yang mereka dapat dari wilayah SSM, Aceh, dan Padang membuat mereka (sebagai orang Barat) meminta perlindungan kepada Belanda. Atau kalau mau keraspun adalah: mereka mendesak dan memberi nasihat kepada pihak Belanda untuk menguasai atau mengaktifkan administrasi pemerintahan kolonial wilayah tempat mereka bertugas.”

      Iya, tidak ada catatan yang bisa membuktikan ia apakah beragama apa karena dia tidak punya KTP yang harus mencantumkan agamanya pada KTP tersebut. Pertanyaan agama apa SSM XII tidak bermanfaat, sebaiknya ditanyakan apa pandangan SSM XII tentang Tuhan, manusia, dan kewajiban ruhaniah hidupnya.

      Ating Yahja

      22 Oktober 2011 at 07:21

    • Terima kasih Amang

      tamlinsianturi

      8 September 2015 at 00:47

  14. Menurut tulisan/surat Nommensen dalam menceritakan prihal ekspedisi kolonialisme belanda dlm menaklukkan Toba, sy menangkap betapa raja-raja batak pada waktu itu berpecah belah dlm menyikapi kolonialisme dan penyebaran agama oleh pihak Nommensen. Dan hal yang sangat menonjol adalah bagaimana sikap berbeda yang ditunjukkan oleh Sisingamangaraja dan raja Lobu Siregar yang begitu tegas menolak kolonialisme dan kegiatan missionaris. Hal itu semakin membuat kagum saya sebagai putra batak thd kepahlawanan dan sifat ksatria dari SSM yang tidak mentolerir perbudakan. Horas

    Siregar naburju

    23 Juni 2012 at 00:41

  15. Maaf saya ikut nimbrung sebentar ya, sebaiknya kalau punya saran dan ide disampaikan dengan baik. Saya mau mengomenyari pernyataan, Nomensen anjing herdernya, saya sangat tersentak melihat tulisan saudara Lambas Tony Pasaribu. Sebenarnya saya sudah sering mendengar kelompok-kelompok yang sering mendiskredikan Ompui Nomensen dalam beberapa pertemuandan perbincangan dengan sekelompok seniman dan budayawan Jakarta.

    beberapa pernyataan mereka yang menyatakan seandainya Ompui Nomensen tidak menyebarkan penginjilan ke tanah Batak maka tanah Batak akan makmur karena dibanjiri oleh turis-turis yang tertarik melihat tradisi asli, upacara adat yg eksotis, dll. Kemudian menyatakan Nomensen menganggap sukubangsa Batak tidak sederajat dengan dia sehingga tidak menikahi wanita Batak.. mereka berargumen seharusnya Ompui Nomensen mengambil istri orang Batak seperti bapak Uli Kozok yang menikah dengan wanita suku Melayu,

    saya tidak tahu apa yg membuat mereka begitu tendensius dan selalu berpikiran negatif kepada Ompui Nomensen.

    Faktanya karya penginjilan Ompui Nomensen sebagai salah seorang Missionaris berhasil menyampaikan misi karya penginjilan ,Matius 28, 19-20. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa Murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Alkitab juga menuliskan dalam 2 Timotius 3, 16. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan , untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

    Kita memang tidak bisa pungkiri bahwa memang masih ada missionaris dibalik kesuksesan Ompui Nomrnsen kita aminkan itu. Tapi apa yang salah dengan misi Ompui Nomensen? Kita hanya bisa menilai dari zaman kacamata kita, bagaimana kompleksnya problem dan masalah yang terjadi zaman itu kita hanya bisa mengetahui melalui cerita-cerita, tulisan, ataupun umpasa-umpasa.

    Sejarah perlu kita ketahui untuk perbaikan kemasa depan yg lebih baik bukan untuk mendiskreditkan atau mencari-cari kesalahan. Ketika Presiden Amerika , George Bush ditanya wartawan, apakah Bush tidak merasa bersalah mengerahkan pasukan dalam perang gurun? Bush mengatakan, sebagai presiden US saya harus berani membuat keputusan, biarlah sejarah yang menilai

    Jadi sebaiknyalah kita berdiskusi untuk menuju hari depan dan kemajuan bangsa Batak seperti lagu Kidung Jemaat 427 dan Buku Ende, KUSUKA MENUTURKAN, RINGGAS AU PABOAHON?

    Ku suka menuturkan, cerita mulia, yang sungguh melebihi impian dunia. Kusuka menuturkan semua padamu, sebab cerita itu membawa slamatku//
    Kusuka menuturkan cerita mulia, setiap kuulangi bertambah manisnys, Kusuka menuturkan sabdaNya yang besar, dan yang belum percaya , supaya mendengar

    Horas

    Cerman Simamoa

    14 Oktober 2014 at 04:13

    • Lae Cerman Simamora…Sangat terasa upaya mendiskreditkan Oppui IL Nomensen. Hanya belum bisa melihat wujud kelompok ini. Masih dugaan awal hasil dari mencermati dan memahami kata per kata dan kalimat per kalimat yang memberikan komentar termasuk biografi Uli Kozok. Satu sisi Uli Kozok harus dihormati dan dihargai sebagai peneliti yang ber-integritas. Sisi lain kita sebagai orang Batak harus bisa kritis terhadap apapun yang dilakukan oleh beliau. Negatifnya, Uli Kozok bisa meruntuhkan budaya Batak dan akhirnya meruntuhkan seluruh orang Batak secara psikologis.

      Djandel Marbun

      5 Januari 2015 at 04:57

  16. Saya tidak pernah mengatakan bahwa seharusnya Nommensen menikahi seorang perempuan Batak. Selama sejarah penginjilan RMG di Tanah Batak ada sekitar 100 penginjil yang ditugaskan dan tidak satu di antaranya yang menikah dengan seorang boru Batak. Memang tidak ada larangan tetapi para penginjil sepakat bahwa pernikahan dengan bangsa yang lebih rendah martabat, dan bangsa yang terkutuk oleh Tuhan seperti orang Batak, adalah hal yang sangat memalukan dan merupakan penghinaan terhdapat bangsa dan budaya Jerman. Dari pernyataan seperti itu tampak jelas betapa pandangan dunia para penginjil diwarnai oleh paham rasisme. Selain itu yang hendak saya tunjukkan dalam buku saya ialah bahwa penginjilan yang dilakukan oleh pihak RMG direncanakan dan didukung oleh Belanda dengan tujuan agar Tanah Batak menjadi semacam benteng pemisah antara Aceh dan Minangkabau, dan bahwa para penginjil, termasuk Nommensen, rela diperalat pleh penjajah karena penjajahan dan penginjilan menurut mereka saling mendukung dan saling membutuhkan.

    Uli Kozok

    14 Oktober 2014 at 10:18

  17. pertama yang ingin saya sampaikan adalah memang tidak mudah mengubah pola fikir batak kristen yang sudah bertahun tahun terbentuk tentang posisi nommensen dalam perang batak..tetapi penelitian yang di lakukan oleh saudara uli kozok merupakan bukti otentik yang tak terbantahkan lagi tentan peran nommensen pada saat itu..memang dilema bagi kita orang batak..ketika fakta menyebutkan nommensen meminta bantuan belanda mengirimkan tentara bala bantuan untuk membantu visi dan misinya di tanah batak yang mana mendapat perlawanan keras dari sisingamangaraja XII, bukankah injil mengabarkan perdamaian…..lantas apa maksud dan tujuan nommensen mengirim surat keda belanda yang notabene juga sesama kristen dan yang menjadi sasaran visi dan misi nommensen adalah suku batak yang bukan kristen.sudah semestinya sisingamangaraja XII mengadakan perlawanan ketika ada penjajahan sekaligus adanya agama baru yang dibawa masuk ke tanah batak yang dikhawtirkan menggerus budaya batak.kekejaman yang di lakukan belanda pada rakyat batak pada saat itu sangat luar biasa,pembakaran kampung – kampung, pembunuhan terhadap pemimpin – pemimpin batak yang setia pada sisingamangaraja terjadi dimana – mana dan orang – orang yang diangggap membantu perjuangan raja sisingamangaraja juga dibunuh, lantas apakah nommensen membantu perjuangan rakyat batak memerangi belanda atau membantu belanda memerangi sisingamangaraja yang melakukan perlawanan atas visi dan misi yang di bawanya????? anda bisa menjawab didalam hati saja. kenyataan ini memang membuat gusar didalam hati kita asing – masing,tapi inilah fakta sejarah yang sebenarnya. jangan sampai blog ini terhapus. horas horas horas.

    amrizal

    30 November 2014 at 06:27

    • Hei,kamu seorang muslim & bukan batak,dimohon jangan ikutg campur,tapi kalau minum aja es campur silahkan

      Amborsius Sitorus

      21 Mei 2015 at 01:12

      • Saudara Amrizal tidak bahas agama lae Amborsius, dia bahas sejarah. Jika lae mau menanggapi, jangan bawa ke perbedaan agama. Itu hal yang sensitif. Jadilah cerdas. Mauliate

        Saul Mambir Sihombing

        19 Agustus 2017 at 15:17

  18. Siapakah anda,apakah anda Batak atau apakah anda Kristen?kok beraninya membuat kegaduhan di sejarah Batak Kristen & kisah Pahlawan Nasional
    ” Sisingamangaraja “.IL Nomensen tidak pernah menjadi mata-mata Belanda atau menghianati bangsa Batak ( Toba ).Jadi mohon tulisan anda di revisi.

    Salam

    Amborsius Sitorus

    Amborsius Sitorus

    21 Mei 2015 at 01:10

    • Nommensen bukan mata-mata Belanda tetapi dia berkolaborasi dengan Belanda. Daripada marah-marah lebih baik Anda membaca dulu buku saya. Bahan yang saya gunakan surat asli Nommensen dalam terjemahan bahasa Indonesia (dan versi bahasa Jerman terlampir pula).

      Dr Uli Kozok

      21 Mei 2015 at 12:25

      • Apa Beda ” MATA-MATA” dan “KOLABORASI ”
        Kalau menggali sejarah saya rasa tidak salah dari suku dan agama mana saja.
        Kalau memang misonaris yang di bahas disini tidak mendukung kekejaman BELANDA kenapa terjadi pembiaran, jangan salahkan pernyataan saudara Amrizal, pembantaian, pembakaran, pembunuhan itu benar terjadi, semuanya POLITIK Belanda. Op Pulo Batu na Manjunjung Harajaon Sisingamangarajq tidak Pernah Bermusuhan sama IL Nomensen, masayarakat Bataklah yang terprofokasi dengan Politik Belanda karena Hepeng ” Uang”. IL Nomensen yang notaben sampai saai ini dikatakan Ompu ni halak Batak Keristen bukan Ompu Ni halak Batak, beliau tetap menjunjung tunggi Budaya Batak na Siningahon Sisingamangaraja. Tetapi Budaya itu sendiri sudah di robah Batak Kristen, ini terlihat jelas dan Fakta.
        Jadi tidak ada gunanya kita saling menghujat di sini, semunya bebas menyampaikan pendapat, semua yang di teliti Dr. Uli belum tentu benar semuanyakan bukti sejarah yg beliau teliti, tolong hargai beliau. Kalau mau tahu bukti sejarah yang merasakan kekejaman Belanda dan Perang Zending tanyakan saya, kakek saya yang sudah berumur 135 tahun masih sehat dan kuat ingatannya. Saya marajahon Sisingamangaraja bukan dari 1-12 karena sisingamangaraja itu 1.

        Bona Butar Butar

        9 September 2016 at 06:03

  19. Mohon situs ini ditutup dari pada membuat kegaduhan

    Amborsius Sitorus

    21 Mei 2015 at 01:13

  20. Saya orang Jawa, Muslim, tertarik dengan situs ini karena berawal dr kepenasaran sy tentang kisah Sisingamangaraja XII yg disebut2 telah menjadi muslim dan sedikit pembahasan mengenai Nommensen. Dlm proses verifikasi itu, sy ‘terdampar’ di blog ini. Setelah baca halaman per halaman, byk khazanah ilmu yg sy peroleh. Terima kasih pak Duktur…..

    Goda-Gado

    17 Juni 2015 at 04:36

  21. Horas tu hita saluhutna, pendapat saya tentang posisi nommensen, penjajah belanda dan Raja Sisingamangaraja. Raja Sisingamangaraja menahan gempuran dari pihak belanda yg jelas beragama kristen, pembakaran kampung2 pembunuhan terjadi dimana- mana terhadap orang2 yg dicurigai mendukung perjuangan Raja Sisingamangaraja, Raja Sisingamangaraja berusaha mempertahankan keutuhan bangsa batak dan budaya batak dari serangan belanda dan nommensen. nommensen yg bertugas menyebarkan agama kristen di tanah batak sudah tentu mendapat perlawanan yg keras dari Raja Sisingamangaraja dan para pengikutnya. Tentu gempuran dari penjajah belanda dan nommensen sudah pasti menjadi kekhawatiran Raja Sisingamangaraja yg mana dapat menghapus adat dan budaya batak terutama agama asli orang batak. tidak mungkin nomensen dalam melakukan tugas penyebaran agama di lakukan tanpa ada bantuan dari kekuatan belanda, yang mana Raja Sisingamangaraja memiliki para pengikut setia para jawara2 batak yg berilmu tinggi, ahli perang dan ahli strategi serang yg jitu, sudah pasti sangat mudah menghalau penyebaran agama kristen yg dilakukan oleh nommensen.. Atau nommensen berada ditengah2 antara belanda dan Raja Sisingamangaraja ?????
    Raja Sisingamamgaraja melakukan perlawanan terhadap nommensen, yg mana pada saat itu Raja Sisingamangaraja melihat orang2 batak sudah ada yg mulai terpengaruh oleh agama yg dibawa oleh nommensen, yg mana ini sangat menjadi kekhawatiran Raja Sisingamangaraja terhadap budaya dan agama batak pada saat itu.

    Pertanyaan saya :
    – Apa yg dilakukan nommensen ketika mendapat perlawanan dari Raja Sisingamangaraja ?
    – Apakah belanda tidak mengenal nommensen dan tidak mengetahui kegiatan penyebaran agama kristen
    yg dilakukannya ?
    – Apakah nomnensen tidak berseteru dengan Raja Sisingamngaraja ?
    – Apakah Raja Sisingamangaraja hanya diam saja terhadap penyebaran agama kristen yg dilakukan nommensen ?

    mohon petunjuk

    rizal

    13 September 2015 at 05:58

    • Tidak jelas siapa yang Anda maksud dengan Raja Si Singamangaraja, apakah SSM 11 atau 12. Kalau SSM 11 tidak melakukan perlawanan terhadap para misionaris, tetapi SSM 12 menganggap para misionaris sebagai kekuatan yang mengancam kekuasaannya. Untuk menjawab pertanyaan Anda:
      1. Nommensen segera menghubungi pemerintah Belanda dan meminta agar mereka mengirim pasukan untuk mengusir SSM12. Namun permintaan Nommensen ditolak karena Belanda tidak mau menjajah Tanah Batak. Baru pada tahun 1878 permintaan Nommensen dikabulkan oleh pemerintah Belanda.
      2. Pemerintahan Belandalah yang memprakarsai Batakmission dengan mempertemukan misi Ermelo (Gerrit van Asselt) dengan misi Rheinische Missionsgesellschaft. Memang sudah sejak sekitar tahun 1850 Belanda merencanakan supaya Tanah Batak harus dikristenkan.
      3. Nommensen mendampingi pasukan Belanda selama Perang Toba Ke-1 (1878) dan beliau menyaksikan SSM12 diusir dari Bangkara.
      4. Tidak, SSM Ke-12 melawan upaya pengkristenan dan malahan memberi ultimatum kepada Nommensen dan Simoneit agar segera mereka meninggalkan Tanah Batak.

      Uli Kozok

      28 Maret 2016 at 23:31

  22. Yth. Amang Uli,
    Saya mengucapkan terimakasih atas tulisan Amang tentang situasi Tanah Batak terutama pada zaman Kolonialisme bersamaan dengan hadirnya Misi Kekristenan. Awalnya, saya agak emosional membaca buku Amang Uli tetapi sebagai orang yang sedang studi dengan Kajian Pasca Kolonialisme yang dibimbing oleh Ibu Katrin Bandel yang baik, saya harus berkepala dingin untuk membaca informasi yang amang Uli. Apalagi selama ini masih banyak hal yang belum terungkuap sehubungan dengan sejarah Batak Toba.
    Jangankan orang Batak bisa emosi dengan informasi yang amang berikan, seorang imam Katolik Misionaris Jerman yang sekarang berdomisili di Jerman juga sedikit emosi ketika saya memberitahu hasil temuan Amang Uli. Pastor tersebut sangat mengagungkan Nommensen. Sekali lagi terhadap temuan amang Uli orang diajak harus berkepala dingin.

    Ando Harapan

    20 Oktober 2015 at 11:13

  23. Di mana saya bisa membeli buku sdr Dr Uli Kozok

    Manahan Manalu

    24 Maret 2016 at 19:12

  24. Kalau tidak dapat di toko buku, boleh dipesan langsung dari penerbit (Yayasan Obor atau Gramedia tergantiung pada buku apa yang dicari). Misalnya: http://obor.or.id/kitab-undang-undang-tanjung-tanah?search=kozok

    Uli Kozok

    28 Maret 2016 at 23:18

  25. awalnya belanda menolak menganeksasi tanah batak, tp kemudian mengabulkan permohonan para misionaris. apa sebelumnya tidak ada rencana menjajah tanah batak? bagaimana sumber anda menanggapinya?

    onanitu

    6 Juli 2016 at 18:01

    • Dalam rangka Onthoudingspolitik Belanda memutuskan untuk membatasi upaya penjajahan pada pulau Jawa dan daerah di luar Jawa yang sudah mereka jajah. Mereka tidak mau memperluas wilayah jajahan. Kebijakan tersebut baru diganti semasa gubjen van Heutz. Mulai tahun 1904 Belanda memutuskan untuk menjajah daerah-daerah yang krtika itu masih merdeka demi melestarikan keutuhan wilayah Hindia-Belanda. (Semua itu dijelaskan di dalam buku saya 🙂

      Uli Kozok

      8 Juli 2016 at 08:11

  26. Horas.!.Prof ULI .
    Saya sependapat sama anda , banyak orang salah pengertian sama
    Orang Batak jaman dahulu ,mengira terbelakang dan TDK beradap padahal sudah
    Berpikir maju ,pada jaman dulu yang mana banyak peninggalan budaya dan pustahka ,jadi tolong prof ungkap lebih detail,mengenai sejarah batak

    Nelson Silalahi

    2 Mei 2017 at 14:12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: