Catatan Dr. Uli Kozok

Pemerhati Bahasa dan Budaya

Peran Zending dalam Perang Toba

with 73 comments

Laporan Nommensen tertanggal 20-6-1878 waktu ia mendampingi ekspedisi militer Belanda menumpaskan perjuangan Singamangaraja XII.

Laporan Nommensen tertanggal 20-6-1878 waktu ia mendampingi ekspedisi militer Belanda menumpaskan perjuangan Singamangaraja XII.

Publikasi “Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba” menyorot peran penginjil Jerman dari RMG (cikal bakal VEM), terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam Perang Batak Toba ke-I. Pada tahun 1877 para missionaris RMG memanggil tentara pemerintah kolonial Belanda karena mereka merasa terancam oleh pasukan Singamangaraja XII dan karena takut keberhasilan zending akan lenyap bila para misionaris diusir dari Silindung dan Bahal Batu. Panggilan misionaris segera ditanggapi oleh pihak pemerintah. Pada 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja, kediaman penginjil Ludwig Ingwer Nommensen, dan bersama-sama dengan penginjil Nommensen mereka berangkat ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Si Singamangaraja yang merasa terprovokasi mengumumkan perang (pulas) pada tanggal 16 Februari. Pemerintah Belanda dan para penginjil memutuskan agar lebih baik untuk tidak hanya menyerang markas Singamangaraja di Bangkara tetapi untuk sekalian menaklukkan seluruh Toba. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda pada perjalanan ekspedisi militernya dari bulan Februari hingga Mei 1878. Puluhan kampung (huta) Batak dibakar dan para raja huta diharuskan bersumpah setia pada pemerintah Belanda dan membayar pampasan perang. Jumlah korban jiwa di pihak Singamangaraja tidak diketahui dengan pasti namun bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan orang. Penginjil Nommensen yang mendampingi tentara penjajah dalam ekspedisi militer mencatat secara akurat kisah berlangsungnya Perang Toba Pertama.

Buku ini ditulis oleh Dr. Uli Kozok dan berdasarkan catatan otentik pihak zending yang untuk pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Buku ini dapat dibeli pada kantor Pusat Studi Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) atau diunduh di sini.

Written by Uli Kozok

4 Juli 2009 pada 12:14

73 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. saya baru mendengar “sejarah” seperti yang tertulis di artikel ini, baru kali ini (ketika umur saya 32 tahun)

    maslin sitompul

    7 Desember 2009 at 10:24

    • Selama ini memang sengaja ditutup-tutupi oleh mereka yang melakukan penelitian di arsip RMG – yang notabene hampir semua dari kalangan HKBP. Mereka tidak mau tahu atau takut mengumumkannya.

      Uli Kozok

      7 Desember 2009 at 22:13

      • Saya jadi teringat dengan buku DA VINCI CODE yang membuat kontroversi besar yang ujung – ujungnya menghasilkan uang yang banyak bagi penulisnya karena bukunya laris manis. Ya, mudah – mudahan buku UTUSAN DAMAI DI KEMELUT PERANG juga dapat memenuhi pundi-pundi penulisnya karena telah membuat kontroversi. 😉

        Binsar

        15 Agustus 2015 at 09:30

  2. mohon ijin tulisannya dimuat-dionline-kan di situs kami, situs orang batak, http://www.pusukbuhit.com

    mauliate

    efendy naibaho
    redaksi

    efendy naibaho

    7 Februari 2010 at 12:37

  3. Yth. DR. Uli Kozok

    Saya mendapatkan data dan gambar “Radja Israel” dari google di KITLV Belanda seperti dibawa ini.Dan menurut keterangan dan silsilah Keluarga Sinaga di Prapat dan Jambur Na Bolag Sipolha (Opung boru Saya Jinim Sophia Boru Sinaga adalah Putri satu satunya beliau, Beliau adalah Kristen pertama tahun 1890 di Prapat dan bergelar Sintua Radja Israel anak no 7 dari Raja Ompu Togadolok Sinaga Sidabariba Parapat.

    Kami Mohon DR. Uli Kozok meneliti Beliau Sintua Radja Israel Sinaga, karena beliau termasuk pemimpin / Pelindung / Radja Kristen pertama di Prapat tepian danau toba

    Terima kasih. Hormat Kami.GBU
    (maaf fotonya tidak bisa di load disini, bisa di cari di google).

    Collectie: KITLV
    Beschrijving/Description: Radja Israel, christelijke vorst aan het Toba-meer
    Signatuur/Imagecode: 12142
    Albumnummer/Albumnumber: 38
    Albumtitel: Celebes en de Molukken
    Trefwoord/Keyword: Batak,indigenous administration,Protestantism,Tapanuli Utara,Indonesia
    Formaat/Size: 6,5×9,5cm
    Uiterlijke vorm/Object type : Foto
    Datumaanduiding/Date information: Circa
    Datum/Date: 1890
    Collectie/Collection: Bierens de Haan, A.
    Herkomst/Provenance: Onbekend

    Parlindungan Damanik

    13 April 2010 at 18:38

    • baru dengar pula ada Raja Israel sinaga… siapa beliau? cari dimana datanya/

      harnold

      9 Juli 2013 at 07:48

  4. Informasi yang bagus. Bagaimana saya bisa mendapatkan naskah ini.

    Budi P. Hatees

    24 Mei 2010 at 14:33

  5. @Budi Hatees
    bisa diunduh kog bung…..
    perlu kita pelajari lagi…..kalaupun ini benar….ternyata kita harus benarkan bahwa sejarah penyebaran agama di masa lalu memang selalu identik dengan kekerasan…penuh dengan beragai macam modus operandi…..termasuk koloborasi…..

    Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

    24 Mei 2010 at 15:24

    • telepas bagaimana kalau tdk dgn cara seperti itu? apakah ada kristen di tanah batak sekarang? harusnya anda bersyukur bung……

      harnold

      9 Juli 2013 at 07:50

  6. Terima kasih. Sekalian saya izin. Saya haus dengan dokumen seperti ini

    Budi P. Hatees

    24 Mei 2010 at 16:36

  7. baru tau juga.. tapi kalau sejarah sih seharusnya harus tetap harus di publish, supaya semua orang bisa belajar dari sejarah. dengan catatan,sejarahnya memang benar,tidak direkayasa. mauliate.

    Mayor

    18 Juli 2010 at 09:20

  8. Pagi tadi saya membaca posting berjudul Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih di http://serbasejarah.wordpress.com/2009/03/30/sisingamangaraja-xii-1845-1907-pejuang-islam-yang-gigih/comment-page-3/#comment-5137).

    Kemudian saya bertemu lagi dengan Politik Agama Penjajah Belanda di http://porseauli.blogspot.com/2006/11/politik-agama-penjajah-belanda.html

    Dalam pengembaraan pemikiran bertemu dengan Nommensen dan Peradaban Batak yang dimuat di http://www.silaban.net/2007/03/11/nommensen-dan-peradaban-batak/

    Wikipedia berbahasa Inggeris (http://en.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Ingwer_Nommensen) membuat saya bertanya-tanya (a) “keterlibatan” Nommensen membantu tentara Belanda; (b) ancaman apa yang kemungkinan dirasakan oleh beliau karena kedekatan “The Batak Priest King” Sisingamagaraja XII dengan Ace. (c) tentang pernyataan “in 1911 he was made an officer of the Dutch Order of Orange-Nassau”.

    Dari sini saya bergeser ke Wikipedia berbahasa Indonesia untuk topik yang sama. Isinya jauh berbeda dengan judul yang sama pada Wikipedia berbahasa Inggeris.

    Tetapi pada Wikpedia terdapat referensi Peran Zending dalam Perang Toba yang dimuat dalam blog ini. Saya dahulukan membaca siapa Uli Kozok dan semua tanggapan yang masuk. Dalam hati saya berkata Dr. Uli Kozak ini luar biasa.

    'nBASIS

    25 Juli 2010 at 05:20

  9. saya sangat tertarik untuk mendapatkan naskah seperti ini. selain mendapatkan buku, bisa tidak diperoleh dgn cara mengunduhnya di internet? mauliate

    I. K. Sitorus

    I. K. Sitorus

    25 Juli 2010 at 06:27

  10. Senang bisa mendapatkan info site ini 😉

    kopral cepot

    25 Juli 2010 at 15:13

  11. […] dengan judul yang sama pada Wikipedia berbahasa Inggeris. Tetapi pada Wikpedia terdapat referensi Peran Zending dalam Perang Toba yang dimuat dalam blog ini. Gerep mengatakan: Juli 25, 2010 pukul 9:33 […]

  12. Pertanyaan saya: Apakah Lidwig I N0mensen ini akan masuk S0RGA atau NERAkA?

    Pissmalim Pis maripulipul

    25 Agustus 2010 at 01:16

  13. Pertanyaan saya: siapa saja yang terlibat di dalam perang ini ? (adakah marga tertentu ?) karena saya merupakan keturunan dari Thomas Tobing yang saya ketahui merupakan salah satu sintua pertama saat didirikannya HKBP.

    Binsar Tobing

    9 September 2010 at 10:43

  14. kita emang harus tahu kebenaran,
    termasuk perasaan Tuan Nommensen saat itu,

    Pasti ada alasan dia melakukan itu,,,

    dan apapun katanya saya senang Tuan Nommensen datang ke tanah Batak,,…. Dan dia pasti masuk SORGA

    mastor

    7 Oktober 2010 at 07:54

  15. dalam bahasa ALkitab-nya, ada cara Tuhan yang tidak kita pahami untuk proses orang Batak menjadi penganut agama Kristen, jujur saja, seandainya Nommensen tidak datang, saya sependapat dengan TB SIlalahi, orang Batak pasti masih hidup dalam kejahiliahannya dan sulit maju berhadapan dengan etnis lain yang sudah lebih dahulu memperoleh peradaban dari Hindu, Islam dan Eropa.

    Tetapi memang, itulah sejarah! Dan kita tidak perlu malu mengakui hal itu, yang jelas, hasilnya kita orang Batak bisa jadi professor, doktor dan orang berhasil, diakui atau tidak karena sekolah zending yang Nommensen dirikan di Tanah Batak. Bravo maju Universitas HKBP Nommensen.

    Juandaha Raya Purba

    16 November 2010 at 06:16

    • Terima kasih atas tanggapan Anda. Menurut saya, tercermin di dalamnya mental kolonial: Budaya Batak (pribumi/inlander) rendah, budaya asing (Hindu, Eropa) tinggi. Orang Batak bersentuhan dengan agama Hindu pada waktu yang sama dengan suku bangsa lain, dan agama Batak asli sesungguhnya tidak berbeda jauh dari agama Bali. Orang Bali pintar karena mereka berhasil mendaftar agamanya di bawah label Hindu sementara agama asli Batak dihina sebagai sipelebegu.

      Sekolah di tanah Batak didirikan oleh zending dengan subsidi pemerintah. Kalau bukan zending yang mendirikannya, pemerintah Belanda mendirikannya, apa bedanya? Di Minangkabau tidak pernah ada zending, tetapi pendidikan mereka tidak kalah. Jadi apa keunggulan zending?

      Apakah Universitas Nommensen memang layak dibanggakan? Dari segi mana? Mutunya jauh di bawah kebanyakan universitas Katolik di Indonesia, dan malahan kalah dengan universitas negeri.

      Demikian tanggapan saya. Tabik.

      Uli

      16 November 2010 at 10:25

    • Kebenaran sejati siapa yang tahu ? Sejarah tahun 1965 saja masih simpang siur. Sejarah bisa diputarbalikkan. Apalagi Dunia maya sering digunakan untuk memprovokasi. Tapi Tuhan maha tahu.

      Erik

      15 Agustus 2015 at 07:12

  16. walllahh… Knape X-an malu mngakuinya..?
    Islam juga msuk ke tapsel dngan peperangan.(baca perang Paderi).

    R.KATOLIK

    24 Januari 2011 at 13:28

    • Memang benar. Masuknya Islam maupun Kristen ke Tapanuli tidak tanpa noda.

      uli Kozok

      25 Januari 2011 at 00:05

      • Zending tidak lepas dari noda karena memang sudah dari sananya pendekatannya (Faktor2 yang mendorong penjelajahan samudera/dunia).

        Ada beberapa faktor yang mendorong penjelajahan samudra:
        a. Semangat reconguesta, yaitu semangat pembalasan terhadap kekuasaan Islam di mana pun yang dijumpainya sebagai tindak lanjut dari Perang Salib.
        b. Semangat gospel, yaitu semangat untuk menyebarkan agama Nasrani.
        c. Semangat glory, yaitu semangat memperoleh kejayaan atau daerah jajahan.
        d. Semangat gold, yaitu semangat untuk mencari kekayaan/emas.
        e. Perkembangan teknologi kemaritiman yang memungkinkan pelayaran dan perdagangan yang lebih luas, termasuk menyeberangi Samudra Atlantik.
        f. Adanya sarana pendukung seperti kompas, teropong, mesiu, dan peta yang menggambarkan secara lengkap dan akurat garis pantai, terusan, dan pelabuhan.
        g. Adanya buku Imago Mundi yang menceritakan perjalanan Marco Polo (1271-1292).
        h. Penemuan Copernicus yang didukung oleh Galileo yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola, matahari merupakan pusat dari seluruh benda-benda antariksa. Bumi dan bendabenda antariksa lainnya beredar mengelilingi matahari (teori Heliosentris).

        (So, Zending itu pendekatannya dari point a,b,c, dan d.)

        Itulah sejarah …. pahit dan memalukan memang. Tapi kita tdk bisa merubahnya lagi. Kita ambil sisi baiknya saja. HIDUP DAMAI side by side.

        Hengky T. Sihotang

        27 Januari 2011 at 22:22

  17. Selamat Tuan Uli Kozok. Terima kasih.
    Begitulah sejarah: sejarah selalu meluruskan sejarah itu sendiri.

    Ada pertanyaan besar yang ingin saya sampaikan: Secara antropologis, apakah ada hubungan antara 3 G (Gold, Glory & Gospel) yang dibawa barat dalam okupasinya ke dunia timur dengan pandangan hidup Batak Toba yang populer; hamoraon, hagabeon & hasangapon 3 H)?

    Apakah 3 pandangan hidup itu ada sejak sebelum Nasrani muncul di Tano Batak, ataukah muncul setelah kejayaan Nasrani terwujud? Sebab saya amati pada masyarakat paganisme seperti pelebegu, pandangan tersebut tak pernah saya dapati.Contohnya seperti Hindu atau Kejawen.

    Alasan saya bertanya ini, karena pandangan 3 H Batak Toba itu tampak sangat materialistis dan fragmatis.Hal ini dalam jangka panjang akan menjadikan Batak Toba menjadi suku yang eksklusif dan bisa teralinasi dalam pergaulannya dengan suku lain.

    Berbeda dengan bangsa barat dengan pikiran 3 G itu, sudah terbentuk sejak Perjanjanian Tordasillas pada abad ke-16 di mana Paus Alexander VI membagi dua dunia kepada Spanyol dan Portugis ketika Colombus pulang menemukan benua Amerika.

    Tujuannya untuk mengkristenkan dunia pasca Perang Salib ketika Ratu Isabella Spanyol mengalahkan Islam di Cordova dan untuk mematahkan perdagangan Islam di Timur yang selama ini mereka kuasai. Di dalam kapal ekspedisi barat itu di dalamnya ada uang, senjata dan perajurit, kaum pedagang dan pendeta. Batak Toba tak mempunyai tradisi seperti itu.

    Terbukti sampai sekarang, mereka belum mampu memakmurkan kampungnya sendiri serta membangun pendidikan secara mandiri. Semuanya karena bantuan orang lain atau anggaran dari pemerintah termasuk gereja.

    Saya mohon Tuan Uli Kozok bersedia menanggapi pertanyaan saya tersebut. Tabik. Thank you very much.

    muchsin lubis

    26 Maret 2011 at 18:13

  18. 3H sudah ada sebelum kedatangan zending, tetapi tidak bersifat materialis. Hamoraon terutama untuk menambahkan sahala dalam wujud kedudukan terhormat di dalam masyarakat. Jadi sebagian dari kekayaan itu dibagi-bagi lagi dengan mengadakan pesta yang royal. Nommensen menganggapnya sebagai ketiga dosa H dan berusaha untuk menghapusnya, tetapi tidak berhasil karena 3H itulah tujuan hidup utama orang Batak. Sekian dan salam, U Kozok

    uli Kozok

    26 Maret 2011 at 20:51

  19. Terimasih banyak Tuan Uli Kozok.Sekali lagi, terima kasih. Salam.

    muchsin lubis

    1 April 2011 at 19:09

  20. Ada yang dilupakan oleh bpk Uli Kozok. Bgmn situasi kejadian saat itu jika dilihat dari sisi pihak Sisingamangaraja XII sendiri, apa tidak ada sumber2 yg bs mendukung? Sebaiknya anda tdk perlu menyertakan analisa anda pada fakta sejarah, kecuali analisa itu didukung oleh bukti aktual yg msh valid saat ini di lapangan. Hal tsb bs melahirkan byk opini2 yg beredar liar di publik dan menimbulkan kesimpangsiuran, krn barang siapa yg plg kuat mempublikasikan opininya dialah yg dipercaya. Kita tdk tahu persis kejadian di masa itu dan anda hanya mencoba mereka reka. Kalau bgt sy pun jd bs merasa berhak beropini dengan meyampaikan analisa sy sendiri.

    Barrus

    19 Mei 2011 at 09:39

  21. Terimasih banyak Tuan Uli
    Kozok.

    rickylenon

    11 Juni 2011 at 08:42

  22. apapapun sejarahnya Nommensen tetap utusan Tuhan.
    bangsa Israel saja harus melewati peperangan untuk sampai di tanah perjanjian..

    ari

    4 Juli 2011 at 06:07

  23. Terima kasih utk Ompoe Nommensen, karna kita semua orang batak telah mengenal Tuhan Yesus Kristus sang Juru Selamat!
    Dia mengorbankan hidupnya dan hidup ditengah-tengah orang Batak sampai akhir hidupnya.
    Kasih apalagi yg lebih hebat dr orang seperti itu yg kampung halaman dan keluarganya tinggal puluhan ribu kilometer dr Tanah Batak ???

    Terima kasih Tuhan Yesus telah mengirimkan Ompoe Nommensen ke tanah batak – tanah perjanjian.

    H.O.R.A.S

    Simbolon

    22 Juli 2011 at 10:40

  24. Pak Uli,

    1. file-file transkrip pdf dari naskah-naskah Berichte pada website Anda tidak bisa kami download. mohon berkenan untuk memperbaikinya supaya bisa kami pelajari.

    2. waktu kami memakai aksara batak unicode buatan Anda, kami temui penanda vokal u tidak berfungsi sebagaimana mestinya. u yang harusnya tercetak di bawah huruf induknya, malah tercetak dengan menambahkan spasi. yang kami tulis adalah aksara batak toba.
    contohnya seperti ini: ᯞᯮ (lu)

    Terima kasih.

    Ating Yahja

    27 Agustus 2011 at 12:01

  25. Tahun 1834, tanggal 6 Februari
    Ingwer Ludwig Nommensen lahir di Nortdstrand, pulau kecil di panatai perbatasan Denmark dan Jerman. Dia anak pertama dan lelaki satu-satunya dari empat orang bersaudara. Ayahnya Peter dan ibunya Anna adalah keluarga yang sangat miskin di desanya. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan cerita gurunya Callisen tentang misionar yang berjuang untuk membebaskan keterbelakangan, perbudakan pada anak-anak miskin.

    Tahun 1846 pada umur 12 tahun
    kedua kakinya sakit parah karena kecelakaan kereta kuda pulang dari sekolah. Selama setahun lebih tidak dapat berjalan, kakinya hampir diamputasi. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa akan menjadi misionar apabila kedua kakinya sembuh kembali. Dia akan pergi jauh untuk membebaskan anak-anak miskin yang budak karena hutang orang tuanya, dia akan memberitakan Firman Tuhan kepada pelbegu yang sangat terbelakang sebagaimana sering diceritakan gurunya Callisen yang sangat dikaguminya.

    Tahun 1847
    Kedua kakinya sembuh secara ajaib, dia dapat berjalan seperti sediakala. Dia kembali ke sekolah pada musin winter (musim dingin) karena pada musin summer dia akan menjadi gembala domba untuk menerima upahan karena orangtuanya sangat miskin.

    Tahun 1848, tanggal 2 Mei
    Ayahnya Peter Nommensen meninggal dunia. Ingwer Ludwig Nommensen sebelumnya bermimpi akan kehilangan ayahnya, maka ia tidak terkejut ketika orang membawa ayahnya ke rumah yang meninggal di tempat kerjanya.

    Tahun 1849
    Pada umur 15 tahun (suatu pengecualian), dia mendapat sidi. Biasanya, orang akan diijinkan mendapat sidi pada umur 17 tahun. Namun, karena Ingwer Ludwig Nommensen sudah tidak obahnya seperti ayah dari dari segi tanggung jawab kepada keluarga maka diberi pengecualian kepadanya. Dia mendapat sidi setelah setahun belajar Alkitab.

    Tahun 1854
    Ibu Ingwer Ludwig Nommensen merestui anaknya, satu-satunya lelaki di antara empat orang bersaudara, menjadi seorang misionar.

    Tahun 1857
    Ingwer Ludwig Nommensen masuk sekolah pendeta di RMG Barmen setelah menunggu sekian lama.
    Tahun 1858, Januari Ibunya meninggal dunia di Nordstrand.

    Tahun 1859
    4 orang Misionar RMG Barmen serta 3 orang isteri misionar terbunuh di Borneo, berita itu semakin menggugah hati Ingwer Ludwig Nommensen untuk pergi ke daerah pelbegu.

    Tahun 1861, 7 Oktober
    berdiri HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Praosorat Sipirok, sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak. Hari itu terjadi kesepakatan 4 orang Misionar Belanda dan Jerman yaitu:
    H (Heine)K (Klammer)B (Betz) danP (Van Asselt) menjadi penginjil atas tanggung jawab Rheinische Missionsgeselshaft dari Barmen, Wupertal, Jerman, yang lazim diebut Kongsi Barmen.

    Tahun 1861, Oktober
    Ingwer Ludwig Nommensen ditahbiskan sebagai pendeta dan langsung diberangkatkan oleh Missi Barmen menjadi misionar ke Tanah Batak, tetapi selama 2 bulan dia masih belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda.

    Tahun 1861, Desember
    Ingwer Ludwig Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran itu memakan waktu selama 142 hari.

    Tahun 1862, 14 Mei
    Setelah mengalami banyak cobaan di lautan, Ingwer Ludwig Nommensen mendarat di Padang. Selanjutnya dia tinggal di Barus. (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan pelayaran kea rah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat).

    Tahun 1862, November
    Bersama beberapa orang Batak, mengadakan perjalanan ke pedalaman Sumatera melalui Barus dan Tukka. Dari Barus, Ingwer Ludwig Nommensen pergi ke Prausorat dan kemudian tinggal dengan Van Asselt di Sarulla.

    Tahun 1863, November
    Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung. Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”

    Tahun 1864, Mei
    Ingwer Ludwig Nommensen diijinkan memulai misinya ke Silindung, sebuah lembah yang indah dan banyak penduduknya.

    Tahun 1864, Juli
    Ingwer Ludwig Nommensen membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta setelah mengalami perjuangan yang sangat berat.

    Tahun 1864, 30 Juli
    Ingwer Ludwig Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwig Nommensen di Eropa.

    Tahun 1864 , 25 September
    Ingwer Ludwig Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwig Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwig Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwig Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwig Nommensen pantas dijuluki “Apostel di Tanah Batak”

    Tahun 1865, 27 Agustus
    Pembaptisan pertama di Silindung terhadap empat pasang suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Diantara keluarga yang dibaptis pertama adalah Si Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Ingwer Ludwig Nommensen diberi nama Katharina.

    Tahun 1866, 16 Maret
    Ingwer Ludwig Nommensen diberkati menjadi suami-isteri dengan tunangannya Karoline di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt. Johansen yang dikirim Kongsi Barmen untuk membantu Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung.

    Tahun 1871
    Ingwer Ludwig Nommensen mengalami penyakit disentri yang sangat parah, dia pasrah untuk pergi menghadap Tuhannya tetapi dia tidak rela misinya berhenti begitu saja. Dia dibawa Johansen berobat ke Sidimpuan.

    Tahun 1864
    Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.

    Tahun 1872
    Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Setelah Gereja baru hampir selesai dibangun, putri pertama Ingwer Ludwig Nommensen yang bernama Anna meningal dunia. Keluarga Ingwer Ludwig Nommensen telah kehilangan dua anak pertama, sungguh suatu ujian berat bagi misionar dalam memulai misinya.

    Tahun 1873
    Sikola Mardalan-dalan (Sekolah dengan tempat tidak tetap) diciptakan Ingwer Ludwig Nommensen agar Orang Batak bisa secepatnya menjadi guru. Siswa mendatangi Ingwer Ludwig Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon dimana para misionar tersebut bertugas. Atau, misionar mendatangi siswanya ditempat tertentu.

    Tahun 1875
    Misionar Ingwer Ludwig Nommensen, bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.
    Tahun 1876Telah dibaptis lebih dari 7000 orang di Silindung.

    Tahun 1876
    Ingwer Ludwig Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba.

    Tahun 1877
    Ingwer Ludwig Nommensen dan Johansen mendirikan Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya sekolah tersebut adalah tempat yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker), yang sekarang tempat berdirinya STM Pansurnapitu dan Gereja HKBP Pansurnapitu.

    Tahun 1877

    Raja Sisingamangaraja ke-XII mengancam akan membumihanguskan kegiatan missioner, ancaman ini tidak menjadi kenyataan.
    Silindung masuk kolonisasi Belanda.

    Tahun 1880
    Ingwer Ludwig Nommensen beserta istri dan anak-anaknya pergi ke Eropah. Mereka diantar oleh banyak orang sampai ke tengah hutan. Mereka berjalan kaki selama dua hari dari Silindung ke Sibolga, menjalani jalan setapak yang sangat sulit. Mereka menungu keberangkatan dari Sibolga ke Padang selama dua minggu.

    Tahun 1881
    Menjelang Natal, Ingwer Ludwig Nommensen kembali ke Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan. Anak-anaknya juga tinggal di sana agar bisa sekolah dengan baik.

    Tahun 1881
    Kongsi Barmen menetapkan Ingwer Ludwig Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP, dia digelari ‘Ompu i’
    Tahun 1887
    Karoline isteri Ingwer Ludwig Nommensen, meninggal di Jerman, sebulan kemudian baru Ingwer Ludwig Nommensen mengetahuinya.

    Tahun 1890
    Ingwer Ludwig Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah ke Sigumpar.

    Tahun 1891 bulan Mei
    Christian, anak ompu Ingwer Ludwig Nommensen, mati terbunuh di Pinang Sori oleh lima orang kuli China di areal perkebunan.

    Tahun 1892
    Bersama Pendeta Johansen yang juga sudah menduda pergi ke Jerman untuk berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan baru untuk masing-masing misionar yang telah menduda. Ingwer Ludwig Nommensen mendapatkan jodohnya anak Tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan jodohnya anak Tuan Heinrich yang bernama Dora. Mereka kembali ke Tanah Batak dengan masing-masing pasangan barunya.

    Tahun 1900 Permulaan Zending Batak.
    Tahun 1903 Permulaan misi Zending ke Medan

    Tahun 1904
    Fakultas Theologi Universitas Bonn, Jerman, menganugerahkan gelar Doktor Honouris-Causa di bidang Theologi kepada Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam pengukuhan tersebut, Ratu Wilhelmina dari Belanda ikut diundang sebagai tamu.

    Tahun 1905
    Berkunjung ke Eropah bersama Tuan Reitze, dia mengunjungi Misi Zending di Belanda dan berkunjung kepada Ratu Wilhelmina.

    Tahun 1909
    Christine Harder, isteri Ingwer Ludwig Nomensen meninggal dunia, setelah melahirkan tiga orang anak. Dia dimakamkan di Sigumpar. Dua anak perempuannya tinggal di Jerman dan belum menikah sewaktu Ompu Ingwer Ludwig Nommensen meningal pada umur 84 Tahun.

    Tahun 1911

    Pesta jubileum 50 tahun HKBP. Pesta besar di onan Sitahuru dihadiri puluhan ribu orang, di tempat dimana 47 tahun sebelumnya Ingwer Ludwig Nommensen mau dibunuh dan dipersembahkan kepada Sombaon Siatas Barita.
    Ratu Wilhelmina dari belanda menganugerahkan Bintang Jasa ‘Order Of Orange Nassau’ kepada DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sebuah bintang jasa yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap luar biasa jasanya di bidang kemanusiaan.

    Tahun 1912
    Berlibur ke Eropah, kembali ke Tanah Batak bersama tuan Pilgram yang telah lama bertugas di Balige.
    Tahun 1916Nathanael anak Ingwer Ludwig Nommensen, mati tertembak di arena Perang Dunia I di Perancis.

    Tahun 1918, Tanggal 23 Mei
    Pukul enam pagi Hari Kamis, Ompu Ingwer Ludwig Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.

    Pada Jumat sore, 24 Mei 1918
    Ompu Ingwer Ludwig Nommensen dikubur di Sigumpar. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.
    Ringkasan ini diambil dari buku:DR. I.L. Nommensen – Apostel di Tanah Batak oleh Patar M. Pasaribu

    bella

    8 September 2011 at 07:52

    • Menarik bahwa tahun 1878 dan 1879 (Perang Toba) justru tidak dimasukkan.

      uli Kozok

      8 September 2011 at 08:27

  26. Ya, Membaca kisah Nommensen dan perannya bagi bangsa batak menjadi menarik saat ada perbedaan tanggapan akan kehadirannya. Mengikuti diskusi ini yang membuka fakta Nomenssen adalah ‘penjajah’ mulanya sedikit menumbuhkan rasa ragu akan rasa hormat kepada Nommensen. Tetapi tidak sulit segera menghilangkan itu. Kemajuan peradaban bangsa batak kini dan orang-orang hebat yang lahir dari bangsa batak memang tidak serta merta karena hadirnya Nomensen dengan paham yang dibawanya karena bali dengan Hindunya, Jawa; minang dengan Muslimnya, tionghoa dengan dengan Budhanya juga tidak kalah maju. Setuju, bahwa hal ini tidak menjadi alasan untuk kehadiran Nommensen, itu adalah sampingan/ tambahan.
    Namun cinta Nomensen kepada bangsa batak melebihi banyak cinta orang batak asli sekali pun kepada bangsanya sendiri. Penjajah datang dengan pedang, pulang dengan emas. Nomenssen datang untuk tinggal dan berbagi, berbagi hidup pada zaman ini dan hidup setelah kehidupan zaman ini. Dia meninggal dengan tenang pada usia tua di tanah batak, tanah yang dicintainya walaupun…. bukan jikalau…

    salam
    batak simamora

    simamora

    3 Oktober 2011 at 16:32

  27. TAK MASUK DIAKAL … BAWA DAMAI SEDANGKAN DIA AJA SI NOMEN MINTA BANTUAN TENTARA BELANDA KARENA MERASA TAKUT TERANCAM… PASUKAN SISINGA MANGARAJA… SAMAPI TERBUNUH NYA SISINGAMANGARAJA.. TAPI KENAPA MASI MAU MENGIKUT… AJARANNYA…….

    Qanitah Cayank

    12 Desember 2011 at 05:54

    • Anda mungkin lupa, jauh sebelum ancaman tersebut Sisingamangaraja XII sudah berkali-kali melakukan intimidasi terhadap para Misionaris dan juga usaha pembunuhan

      Lhot

      13 Desember 2011 at 18:10

  28. Pak Uli

    Dalam almanak HKBP ada tertulis : Pdt. Munson dan Lyman tewas dibunuh di Lobu Pining. Apakah pembunuhan ini memiliki efek psikologis dari genosida yang dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol (perang paderi) terhadap etnis Batak?
    Kenapa genosida ini tidak pernah anda ekspos padahal ini erat kaitannya dalam sejarah Batak?

    Lhot

    13 Desember 2011 at 18:07

  29. Dalam buku Utusan Damai, saya menyinggung Perang Padri namun saya tidak melakukan penelitian secara mendalam karena hal itu pasti akan memakan waktu bertahun-tahun dan juga dana karena harus melakukan penelitian di arsip baik di Belanda maupun di Indonesia.

    Saya meragukan apakah layak kita sebut Perang padri sebagai genosida karena Padri tidak berniat untuk memusnahkan suku Batak, dan juga karena kita tidak memiliki data yang dapat diandalkan tentang jumlah korban yang jatuh dalam peperangan itu.

    Walaupun saya enggan menyebutnya sebagai genosida, Perang Padri memang merupakan serangan yang paling dahsyat yang pernah dialami oleh suku Batak.

    Uli Kozok

    14 Desember 2011 at 04:04

    • Mungkin sebaiknya saudara meneliti secara mendalam untuk mendapatkan analisa yang lebih kuat. Fakta yang hanya sepotong-sepotong dapat memberikan persepsi yang salah.
      Saya setuju dengan saudara Barrus, bahwa barang siapa yg paling kuat mempublikasikan opininya dialah yg dipercaya.
      Dan saya senang membaca referensi dari saudara Uli Kozok (nama yang unik), karena dapat memperluas wawasan saya. Dalam setiap proses asimilasi pasti melibatkan hal yang positif dan negatif.
      Buat saya, sampai saat ini bangsa ini masih dijajah. Jangan hanya karena kulit yang sama maka orang lain dianggap tidak akan menjajah sesamanya.
      ‘Ia (Nommensen) juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Ingwer_Nommensen)’
      Mudah-mudahan saudara Uli Kozok bisa lebih dibukakan matanya untuk melihat ketulusan dan kebaikan yang sebenarnya. Gbu

      marnida

      26 Maret 2012 at 07:35

      • Buku yang saya tulis bukan biografi Nommensen. Belakangan ini banyak bermunculan buku yang menyoroti peranan agama Kristen dalam penjajahan di benua Afrika. Buku “utusan Damai” dimaksud untuk menunjukkan bahwa badan-badan penginjilan di Indonesia, khususnya RMG (cikal bakal HKBP), sama dengan saudaranya di Afrika, bukan hanya menjalin kerjasama yang sangat mulus dengan pihak penjajah tetapi malahan menawarkan dirinya menjadi pelopor dan kaki tangan penjajah.

        Selain itu, jangan lupa bahwa hal-hal yang Anda sebut (memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya) juga dilakukan oleh pihak Belanda. Dalam hal tersebut Belanda dan Nommensen memiliki pandangan yang sama: Keduanya ingin membawa ‘peradaban Barat’ kepada bangsa yang ‘primitif’. Tentu Belanda sambil mencari duit, dan para zendeling sambil mencari hamba Tuhan.

        Nama saya bukan terlalu unik. Uli adalah nama yang sangat biasa di Jerman (tidak ada kaitan dengan uli dalam bahasa Batak).

        Uli Kozok

        26 Maret 2012 at 09:36

    • Anda mengakui paling dahsyat, tapi anda tidak punya catatan tentang hal itu dan tidak mau membahasnya karena anda hanya ingin memojokkan satu pihak.

      Erik

      15 Agustus 2015 at 07:23

      • Saya seorang peneliti. Saya tak punya “agenda” apalagi keinginan untuk “memojokkan”. Apakah tindakan Nommensen dkk dianggap “dosa” atau tidak bukan saya yang dapat menilainya karena saya bukan teolog. Namun RMG sendiri telah mengakui bahwa mereka berdosa. Dalam Pengakuan Bersalah (Schuldbekenntnis) tertanggal 27-9-1971 Vereinigte Evangelische Mission, (VEM) sebagai pengganti RMG mengakui bahwa “Kami terlalu sering menyerah pada godaan bersekongkolan dengan para penguasa sekuler dengan mengorbankan saudara dan saudari pribumi”, dan Philip Potter, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Se-Dunia tahun 1972-1984, mengakui bahwa “gerakan penginjilan […] bermula bertepatan dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme, dan, sebagai akibatnya, rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”

        Uli Kozok

        15 Agustus 2015 at 20:27

  30. Beberapa catatan yang saya nilai perlu dipahami seputar publikasi “Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba”, al:

    1) Judul: “…di Kemelut Perang” secara tidak langsung menggambarkan konteks/latar belakang yg tdk boleh diabaikan, bahwa Perang “gerilya” melawan kolonialisme sedang berlangsung, dan Sisinga Mangaraja tampil sebagai “panglima” bangsa Batak (apresiasi terhadap usaha ini kemudian berhasil mengangkat Sisingamangaraja XII menjadi Pahlawan Nasional RI).

    2) Sub title: “Peran Zending …” Terkesan sangat tendensius, terutama bila dilihat dari konteks/latar belakang perang melawan kolonialisme (poin 1 di atas). Suka atau tidak suka, sorotan terhadap “peran zending” itu mengarah pada stigmatisasi terhadap usaha zending sebagai “bagian dari kolonialisme” oleh Barat, yang amat sering dipolitisir untuk mendiskreditkan Gereja (Kristen) di Indonesia pada zaman Orde Baru dan Orde Reformasi hingga saat ini. Padahal, motiv dan tujuan para missionaris sama sekali berbeda dengan Kolonial Belanda. Kehadiran para missionar sama sekali tidak mengandung motiv politik/ kolonialisme seperti Pemerintah Kolonial. Oleh karena itu, saya menilai publikasi itu potensil menjadi komoditi politik oleh kelompok anti pluralisme di Indonesia (untuk terus mendiskreditkan Gereja sebagai titisan kolonial). Memang, secara teoloigis hal itu boleh saja dianggap sepi, karena sesungguhnya Injil harus diberitakan baik atau tidak baik waktunya, termasuk dalam zaman jahiliah/kolonialisme. Namun, secara sosial politik hal seperti itu jelas merupakan beban sejarah yg tidak membangun, khususnya dalam konteks merawat pluralisme.

    3) Generalisasi “semua kulit putih” (sibontar mata) itu sama dengan Kolonial, agaknya tidak dapat dihindarkan, dan konsekwensinya adalah para missionar juga menjadi sasaran kebencian dan target peperangan antara Pasukan Sisingamagaraja melawan Kolonial. Oleh karena itu, langkah Nommensen untuk mengamankan wilayah misinya sangat wajar/dapat dipahami. Namun, bila antisipasi Nommensen terhadap dampak perlawanan Sisingamangaraja melawan tentara Belanda dilihat sebagai “peran” dalam pembinasaan bangsa Batak, jelas itu sangat tendensius dan memalukan, sebab kenyataannya Nommensen mengembangkan Pargodungan sebagai pusat pemberdayaan spiritual, intelektual/budaya, ekonomi dan kesehatan, semuanya untuk kemajuan dan kesejahtetaan bangsa Batak.

    4) I L Nommensen adalah seorang missionar yang menonjol dari antara sejumlah utusan RMG adalah sebuah fakta. HKBP dan juga Jerman sampai hari ini mengapresisasi pelayanannya dengan gelar “apostel” dapat dipahami, tanpa mengabaikan keterbatasan/kelemahannya sebagai manusia. Namun, kharakter dan komitmennya dlm memberitakan Injil utk membebaskan bangsa Batak dari kekafiran (penyembahan berhala/roh nenekmoyang/ animisme) patut dihargai lebih, karena seluruh hidupnya diabdikan untuk bangsa Batak. Adapun ekses negatif strategi misinya dalam beberapa aspek budaya/adat Batak harus dilihat jg secara proporsional, sesuai dengan tingkat kedewasaan iman orang Kristen Batak pada waktu itu. Sebab “puasa” adat/budaya tertentu (dengan melarang pelaksanaannya) boleh jadi merupakan strategi yg dianggap efektip utk memutus praktek kekafiran pada waktu itu, toh seiring dengan kedewasaan iman orang Batak Kristen kemudian upaya inkulturasi terus dikembangkan. Ini adalah tantangan bagi para teolog/rohaniawan dan tokoh adat Batak Kristen.

    Colan WZ Pakpahan

    2 Februari 2012 at 14:21

  31. 1) Pada saat Nommensen masuk ke Silindung belum ada “perang gerilya melawan kolonialisme”. Perang gerilya baru dimulai sesudah Perang Toba Pertama berakhir.
    2) Kebijakan RMG (yang kini menjadi HKBP) pada saat itu untuk sepenuhnya mendukung kolonialisme. Di Afrika para misionaris RMG berulang kali menawarkan diri menjadi perintis penjajahan. Ini fakta sejarah dan sudah banyak buku yang menyorot keterlibatan RMG di Afrika sementara ini baru buku pertama yang menyorot kongkalikong zending dan penjajah di Indonesia. Coba baca buku F. Fabri (direktur RMG) yang berjudul “Bedarf Deutschland der Kolonien?” (Apakah Jerman Membutuhan Wilayah Jajahan”) yang diterbitkan tahun 1879. Di situ menjadi jelas bahwa motif dan tujuan misionaris RMG tidak berbeda jauh dengan motif dan tujuan Belanda. Keduanya memiliki tujuan untuk menegakkan hegemoni Barat dan membawa peradaban pada “bangsa-bangsa liar”.
    3) Anda jangan mengada-ada. Tak pernah ada upaya dari pihak mana pun untuk “membinasakan” bangsa Batak!
    4) Kalau Anda menyebut agama asli Batak sebagai “kekafiran”, jangan lupa bahwa agama orang Bali (yang kini disebut Hindu Dharma) dan agama asli Batak pada hakikatnya sama. Jangan terlalu enteng dalam menyebut istilah “kafir”. Perlu juga Anda ketahui bahwa 1. RMG (yang kini telah menjadi VEM) sudah secara terbuka meminta maaf karena terlalu sering memojokkan para pribumi dan karena terlalu sering berkongkaliking dengan penjajah (baca Schuldbekenntnis der Vereinten Evangelischen Mission “pengakuan berdosa VEM tahun 1990”), dan 2. istilah kafir kini tidak lagi digunakan oleh pihak VEM.

    Uli Kozok

    2 Februari 2012 at 23:15

    • Trima kasih. Jawaban Anda sungguh netral. Saya suka.

      Saul Mambir Sihombing

      19 Agustus 2017 at 16:13

  32. Sekedar klarifikasi: 1)Perang “gerilya” merujuk pada judul yg meletakkan konteks pada situasi perang, sementara “gerilya” (dalam tanda kutip) berkonotasi bentuk/cara, jadi bukan dalam arti “perang gerilya” dalam merebut kemerdekaan. 2)Istilah “kafir” tdk dimaksudkan utk menyebut agama Batak asli, hanya terbatas pada praktek pemujaan roh nenekmoyang/animisme; secara pribadi saya mengagumi banyak hal dari agama Batak. Saya percaya Tuhan Yang Maha Esa juga bekerja di dalam agama Batak. 3)Istilah “pembinasaan” mungkin terlalu jamak, harus dikoreksi, karena yang dimaksud sebenarnya adalah “pembunuhan/korban meninggal” dlm perlawanan terhadap penjajah. Tapi pada dasarnya penjajahan merupakan pembinasaan yang berbungkus politik, karena itu segala bentuk penjajahan harus dihapuskan, dan karena itu harus ekstra hati-hati menyebut usaha zending sebagai bagian dari kolonialisme apalagi bila secara enteng menyebut “motiv dan tujuan keduanya tidak jauh beda.” 4) Terima kasih atas respon bapak Uli Kozok!

    Colan WZ Pakpahan

    3 Februari 2012 at 01:22

  33. 1) Ya, tetapi sebelum Perang Toba Ke-1 (1878) tidak ada perang. Periode dari zaman Padri hingga tahun 1878 adalah periode yang penuh dengan kegelisahan, tetapi tidak ada perang, apalagi terhadap Belanda karena Belanda tidak menunjukkan minat untuk menguasai Tanah Batak.

    2) Penjajahan tidak sama dengan pembinasaan karena para penjajah membutuhkan pribumi sebagai tenaga kerja. Pembinasaan bisa terjadi kalau pribumi menolak dijadikan tenaga kerja. Hal itu terjadi misalnya di Namibia – lapangan zending RMG yang terbesar.

    Sekali lagi, baca buku yang dikeluarkan direktur RMG Friedrich Fabri atau salah satu dari sekian banyak buku yang diterbitkan tentang RMG. Sangat jelas dkatakan di situ bahwa para penginjil senantiasa harus bekerjasama dengan pihak penjajah karena pada hakikatnya tujuannya sama. Semasa hidupnya Friedrich Fabri, yang pernah menjadi guru Nommensen, berusaha keras untuk meyakinkan pemerintah Jerman untuk menjajah Brasil. Fabri malahan pernah menjadi penasihat urusan kolonial kanselir Otto von Bismarck. Hampir semua orang Eropah pada saat itu, kecuali beberapa dari orang dari kalagan sosialis dan komunis, serta beberapa orang berwawasan liberal, yakin bahwa penjajahan adalah sesuatu yang wajar dan perlu.

    Menurut teologi RMG (cikal bakal HKBP) penjajahan malahan dibenarkan di dalam alkitab! Hal itu dapat dibaca dalam buku Rohden, direktur RMG sebelum Fabri, yang juga pernah menjadi guru Nommensen. Nommensen sangat mengagumi Rohden yang mengajarkan di dalam kelas “Sejarah Dunia” bahwa bangsa berkulit cokelat wajar dijajah oleh bangsa putih karena memang sudah demikian ditakdirkan oleh Tuhan. Dalam buku sejarahnya Rohden “membuktikan” dengan menggunakan kutipan dari injil keunggulan ras putih dan terutama bangsa Germania. Menurut Rohden ras berkulit cokelat ditakdirkan menjadi budak bangsa putih. Warna kulit, menurut Rohden, menjadi penanda apakah sebuah bangsa pilihan Tuhan atau menjadi bangsa yang terkutuk: “Semakin berdosa sebuah bangsa, semakin berubah bentuk dan warna kulitnya. Semakin hitam warna kulit sebuah bangsa semakin berdosa bangsa itu.” demikian tulisnya Rohden. Dengan bekal teologi seperti itu para penginjil RMG diberangkatkan ke Sumatra, Namibia, atau Cina.

    Uli Kozok

    3 Februari 2012 at 02:38

    • Bangsa Arya lebih Unggul itu semboyan Hitler. Tidak Ada tulisan di Injil yang rasialis (baca cerita orang Samaria). Jangan dipaksakan ditarik benang merah hanya karena semata-mata RMG dari Jerman.

      Erik

      15 Agustus 2015 at 07:34

      • Memang tidak ada di injil. Yang ada ini: Kejadian 9:25: “Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.” (Kanaan itu anak Ham). Lalu dikatakan dalam injil bahwa bersama-sama saudara-saudara laki-lakinya: Sem dan Yafet, ia menurunkan bangsa-bangsa di dunia. Nah, ke mana perginya mereka tidak begitu jelas karena tidak semua tampat yang disebut di dalam injil diketahui keberadaannya. Namun sejak dahulu kala dinterpretasikan bahwa Yafet menurunkan ras putih dan Ham menurunkan ras yang berkulit hitam, maka hal itu diinterpretasikan oleh RMG bahwa bangsa putih boleh memperbudak bangsa hitam.

        Uli Kozok

        15 Agustus 2015 at 20:04

    • Kalau boleh Tahu Sisingamangaraja X gugur oleh siapa ya ? Dan Bagaimana tentara penyerang itu memperlakukan perempuan- perempuan lokal ?

      Binsar

      15 Agustus 2015 at 08:06

      • Tampubolon pernah menuliskannya dalam artikel berikut: Tampoebolon, Radja H. A. m. “Het sneuvelen van Si Singa Mangaradja.” Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkkundig Genootschap 61. (1914)

        Uli Kozok

        15 Agustus 2015 at 20:33

  34. Walaupun ada teolog RMG mengatakan penjajahan dapat dibenarkan, tapi bangsa Batak yang menerima Injil lewat para missionar RMG tidak pernah menganut teologi seperti itu, dan dalam kemandiriannya HKBP menunjukkan kemampuannya menyusun konfessinya sendiri; mungkin jg RMG kaget melihat kemampuan pendeta pribumi memimpin gereja itu pasca pengusiran semua missionar RMG. Pak Uli Kozok, sekali lagi terima kasih utk diskusi menarik ini. Horas!

    Colan WZ Pakpahan

    3 Februari 2012 at 06:59

    • ” … dan dalam kemandiriannya HKBP menunjukkan kemampuannya menyusun konfessinya sendiri; mungkin jg RMG kaget melihat kemampuan pendeta pribumi memimpin gereja itu pasca pengusiran semua missionar RMG … ”

      Menurut saya mereka memang ‘terkejut’ saat itu, tapi jikalau mereka masih hidup, mereka akan menangis melihat dan menyaksikan ‘kegagalan’ HKBP yang kita anut sekarang dalam mengemban tugasnya menagungkan Tuhan, melayani sesama manusia, dan menyebarkan karya keselamatan.

      Banyak jemaat yang terusir karena pelanggaran, banyak juga yang pindah karena tidak adanya pertumbuhan iman dari kebaktian mingguan yang dilaksanakan, fellowship hamba Tuhan yang kurang kepada jemaat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai ada kesan, jemaat hanya memberikan ‘sumbangan’ (persembahan,red) mingguan atau bulanan tanpa ada perkembangan yang signifikan dibanding gereja lainnya dalam hal pengabdian kepada jemaatnya (pertumbuhan iman, kesehatan, pendidikan, dll). Yang ada malah pertumpahan darah saat perebutan kekuasaan tahun 1993 antara SAE Nababan VS PWT Simanjuntak.

      OMG, masih banyak lagi hal-hal yang ‘cukup memalukan’ yang terjadi di tubuh HKBP, mulai dari motif masuk jadi pendeta sampai ke penempatan pelayanan ‘zona nyaman’ pendeta. Semua hal-hal tersebut memang kurang relevan jika dibahas di artikel ini.

      Tapi maksud saya apakah sudah layak ‘dirayakan’, ‘dipestakan’, ‘diperingati’ 67 tahun pribumisasi kepengurusan HKBP dari kekuasaan missionaris-zending Jerman (RMG) ??? (Salah satu tujuan perayaan Jubeleum 150 tahun HKBP di Gelora Bung Karno, Jakarta 4 Desember 2011 kemarin). Atau masih layakkah untuk membuat mereka, missional RMG ‘TERKEJUT’ dalam hal positif? … jawaban saya saat ini … TIDAK.

      Tapi saya tetap bersyukur, karena masih banyak pendeta yang berfikir reformis yang siap melakukan pembaharuan ke arah yang lebih baik. Lahirnya pendeta-pendeta muda yang motif dan tujuan pelayanannya jelas dan benar, serta jemaat yang sudah mulai kritis dan terlibat langsung dalam pelayanan gereja HKBP.

      PS : Soal sejarah, tidak akan bisa kita ubah lagi. Sejarah yang baik ataupun buruk tidak ‘berguna’ lagi secara langsung dengan kehidupan masa kini. Biarlah itu tinggal sejarah. Tugas kita adalah mempertahankan yang baik dan memperbaiki yang salah.

      May God Bless Us.

      Hengky T. Sihotang

      3 Februari 2012 at 07:58

      • dalam setiap pertumbuhan rohani, ada potensi kejatuhan… Bahkan alat yang digunakan olehNYA, bisa jatuh. Contohnya, Saulus saat dalam masa pertobatannya, bukankah seorang murid bernama Ananias dipakai olehNYA untuk menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia (Saulus) dapat melihat kembali (di Kisah Para Rasul 9:12). Saya juga ingat cerita tentang kejatuhan Ananias di chapter-chapter berikutnya. Pertobatan yang sesungguhnya bukanlah sekali bertobat semua selesai. Masih panjang perjalanan. **Tapi siapakah aku TUHAN, hilang dan ragu…
        God bless u, God bless me…

        marnida

        26 Maret 2012 at 07:51

  35. pertama sekali saya mendapatkan buku aksara batak dari teman yang dosen antropologi di Unimed karangan Uli Kozok, mendekatkan saya dengan nama itu hingga terasa begitu femiliar, hari berikutnya saya baca berita yang semakin intens tentang aksara batak yang sudah di digitalkan baik itu pada saat di Unimed maupun Universitas Sisingamangaraja ( belakangan menimbulkan penafsiran bagi saya kenapa Uni. Sisingamangaraja yang dipilih bukan Nomensen ) yang juga tetap melibatkan nama Uli Kozok dan hingga kini saya banyak mengikuti perdebatan di media internet ini dan jujur makin menimbulkan banyak hasanah baru dalam diri saya;

    A. dalam perdebatan ini kalau boleh saya bertanya kepada Uli Kozok
    1. Kenapa Uni. Sisingamangaraja yang dipilih?
    2. Apakah motivasi Uli Kozok seperti memper”salah”kan IL. Nomensen dalam upaya penyebaran injil di tanah Batak? (dalam hal ini Uli sendiri sudah mengutarakan ada permohonan maaf dari RMG (yang kini telah menjadi VEM) sudah secara terbuka meminta maaf karena terlalu sering memojokkan para pribumi)

    B. kalaulah boleh saya mengusulkan :
    1. berhubung kita sekarang tingagal di jaman yang sudah berbeda, kalaupun sejarah itu kelam tapi jangan memacah kita pada saat ini.
    2. kalau boleh kepada Uli Kozok, agar tetap semangat ( untuk mungkin memperluas penelitiannya ) baik menyangkut (tuanku rao/paderi) maupun tentang isi dari sebagian atau seluruhnya isi buku laklak yang mungkin tidak ada lagi di tanah batak.

    songoni majolo, anggiat sian sejarah yang kita miliki boi nian bangso batak manang HKBP manang hakristenonta marlaba tu hangoluonta sisangonari

    jesbun

    22 April 2012 at 02:54

  36. 1. Saya tidak pilih bulu. Kalau Univeristas Nommensen mengundang saya, saya datang. Kebetulan saat itu Universitas Sisingamangaraja yang mengundang. 2. Motivasi datang dari kawan-kawan saya. Suatu saat pernah saya utarakan ketika saya berpidato di Unimed bahwa Nommensen menganggap Singamangaraja sebagai musuh zending. Di situ banyak teman bertanya: “Kami tidak pernah mendengarkan itu”. Lalu atas permintaan mereka maka saya menulis buku itu. 3. Kita perlu belajar dari sejarah. Agama selalu menjadi alat politik para penjajah. Bukan hanya agama Kristen – agama Islam pun mereka peralat. Sama saja.

    Uli Kozok

    22 April 2012 at 04:15

    • @Bapak Uli Kozok
      Saya memandang anda sebagai seorang anti-kristen yang ingin memojokkan sejarah Nomensen di tanah batak. Belanda tidak butuh menjadikan seorang pribumi menjadi kristen untuk mempermudah penjajahan, lihat saja orang2 Ambon, yang notabene salah satu pribumi yang paling dekat dengan pemerintah kolonial Belanda. orang Ambon baik muslim maupun kristen banyak yg direkrut menjadi tentara KNIL. salah satu Mesjid pertama di Belanda didirikan oleh komunitas ambon muslim.

      anda mungkin akan menertawakan ini, tapi kami ingin mengingat dan menganggap Nomensen sebagai pahlawan penyebar injil. dan siapakah anda ini? seorang asing dari Jerman yang ingin mennyakiti perasaan keagmaan 4 juta Kristen Batak? haruskah kami percaya bahwa Nomensen adalah seorang penipu kaki tangan belanda yang sama sekali tidak memiliki ketulusan dalam hatinya?
      saya tidak percaya dengan ketulusan dan keobjektifan penelitian anda. Anda membawa misi anti-kristen…

      Luat_Daud

      22 Juli 2012 at 16:51

      • Benar sekali apa yg bapak@ Luat Daud katakan.
        sepertinya @Uli Kozok ini seorang provokator.
        Sebagai masyarakat Batak, kita harus mengenang ‘ Ompunta i Pdt. DR. I.L. Nommensen “, sbg missionaris yg membawa terang / keselamatan ke tanah Batak.
        Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus, yg telah mengutus beliau dtg ke tanah Batak.
        Tanpa beliau ( Ompunta Pdt. DR. I.L.Nommensen ) saya dan ( akka ompung nami sijolo – jolo tubu ) mungkin hingga saat ini, belum mengenal keselamatan.

        always viju

        8 Desember 2014 at 12:32

      • Kata provokator berasal dari bahsa Latin prōvocāre (merangsang). Jadi secara harafiah ‘provokator’ berarti ‘orang yang merangsang’. Merangsang bisa negatif bisa pula positif dalam arti merangsang pikiran. Kalau diinterpretasi demikian, saya tidak apa-apa disebut ‘provokator’. Dan memang itulah tugas seorang ilmuwan: merangsang masyarakat untuk memikirkan kembali hal-hal yang selama ini dipercaya begitu saja.

        Apakah Anda melihat bahwa sekitar 60% buku saya bukan kata-kata saya sendiri melainkan terjemahan surat-surat Nommensen. Jadi yang saya tulis semuanya berdasarkan dokumen asli dari L.I. Nommensen yang ada di arsip RMG di Barmen (Wuppertal).

        Uli Kozok

        8 Desember 2014 at 19:53

    • Binatang buas itu ditunggangi si pelacur. Agama selalu menjadi alat politik para penjajah dan sebaliknya.

      Saul Mambir Sihombing

      19 Agustus 2017 at 16:43

  37. Saya ingin mendownload buku itu. Saya meng-klik link yang diberikan, tapi tidak berhasil. Mohon bantuannya. Terima kasih

    Amri Munthe

    24 Agustus 2012 at 04:54

  38. Bagus di baca sdh saya baca juga tulisannya nampak penelitian ilmiah mendekati tulisan sempurna tapi makna tulisan agak bertendensi mencari hubugan antara Oppui L. Nommensen dengan Kolonial Belanda meskipun seluruh tulisan menekankan penolakan yang sangat kuat dari seluruh masyarakat dan Raja-raja Batak atas kehadiran Belanda. Sumber-sumber muncul dari tulisan-tulisan pustaka dan hasil wawancara tapi kurang menggali dari sumbe sejarah yg dimiliki HKBP baik yg di Pea Raja maupun sumber pustaka lain yg salaing betkesinambungan dan saling menguatkan

    Darwin Purba

    30 Desember 2014 at 19:54

  39. Bagus di baca sdh saya baca juga tulisannya nampak penelitian ilmiah mendekati tulisan sempurna tapi makna tulisan agak bertendensi mencari hubugan antara Oppui L. Nommensen dengan Kolonial Belanda meskipun seluruh tulisan menekankan penolakan yang sangat kuat dari seluruh masyarakat dan Raja-raja Batak atas kehadiran Belanda.

    Sumber-sumber muncul dari tulisan-tulisan pustaka dan hasil wawancara tapi kurang menggali dari sumber sejarah yg dimiliki HKBP baik yg di Pea Raja maupun sumber pustaka lain yg salaing betkesinambungan dan saling menguatkan.

    Darwin Purba

    30 Desember 2014 at 19:56

  40. Masih ada referensi buku yang berjudul “Titis Tinambur” buku versi HKBP berbahasa Batak untuk menguatkan penulisan Bang Uli.

    Darwin Purba

    30 Desember 2014 at 20:16

    • mohon dishare tentang Titis Tinambur ini, pak Darwin

    • Saya tidak perlu “mencari” hubungan antara Nommensen dan penguasa kolonial karena hubungan itu sangat jelas ada baik menurut tulisan Nommensen sendiri maupun melalui tindakannya. Hubungan erat antara RMG dan penguasa terdokumentasi dengan sangat baik, baik di Indonesia maupun di Afrika, dan Batakmission bukan pengecualian. Malahan RMG melihat dirinya sebagai perintis penjajahan. Kita harus sangat berhati-hati membaca tulisan HKBP karena penulisan sejarahnya sangat tendensius dan sering malahan mendekati pemalsuan sejarah. Sebagai seorang ilmuwan saya merasa bertanggung jawab untuk meluruskan sejarah kolonial Batak sehingga bangsa Batak memiliki dasar untuk menilainya secara obyektif.

      Uli Kozok

      19 Januari 2016 at 00:44

      • Siboan tua do Ompu Nommensen tu bangso batak

        Davetamp

        10 Maret 2016 at 13:59

  41. yang disebut sitattas nambur itu siapa saja?

    pasaribu

    18 Januari 2016 at 17:37

  42. berhasilkah orang belanda dan nomensen menghilangkan habatahon sehingga banyaknya orang Batak yang benci dengan habatahonnya sendiri contoh;bangga pake bahasa ibu orang lain, bangga menyebutkan kampung orang lain lebih maju, menyebut agama leluhur/nenek moyangnya sipele begu dan menyebut agama import sebagai agama terbaik ? tanya diri sendiri kan? mau jadi diri sendiri atau mau jadi orang lain? tanah Batak sudah lebih maju dari negeri manapun di dunia ini sebelum orang eropa datang ke tanah Batak, apa buktinya? Buktinya tanah Batak adalah tanah merdeka sebelum Nomensen menghianati ompung Sisingamangaraja XII dan gugur 1907 barulah tanah batak dijajah sementara tanah orang lain sudah berratus2 tahun lebih dijajaha kan?

    Tanah Batak adalah negeri mandiri tanpa masuknya orang2 asing, bisa bikin kain sendiri, rumah sendiri, kapal sendiri, bodil, sibunurea/bom,piso, hajut,mas,nilam,kapur barus,dll malah orang asinglah yang pingin beli produk Batak , mereka membeli produk Batak di pantai tanpa bisa masuk ke tanah Batak, karna apa?
    Karna takt dimakan orang Batak, hahhahahha
    Marcopolo sendiri bilang’saya tak masuk ke tanah Batak , hanya di bibir pantai, klo dia memang pernah masuk ke tanah Batak pasti sudah dilihatnya danau Toba dan pastis sudah ada danau Toba dlm peta pd masa itu kan?
    So, banggalah jadi orang Batak, banggalah denhgan agama Batak, saleleng hita marugamao Batakompungta sijolo2 tubui ujui marugamo Batak dang boi mintas parjehe manang panjajah tu tano Batak kan?
    dung rope parugamo import gabe dabu bangsoi kan? aje, mulak mahita tu hadirionta kan? emma tutu , horas..

    Ron Li Tambunan

    24 Agustus 2016 at 10:28

  43. saudara-saudara pencinta kebenaran. Kita harus membedakan pola pikir seorang ateis dengan pola pikir orang beriman (umat tebusan), membedakan pola pikir manusia dengan pola pikir Tuhan. Tuhan yang menjadi manusia dan berkorban menebus dosa manusia serta membebaskan orang dari ikatan kuasa kegelapan dan memberi kuasa kepada umat tebusannya melawan setan/iblis/begu ganjang/begu antuk yang selalu minta darah seperti tuhannya bangsa mesir dahulu (Baal dll minta darah/nyawa anak-anak) (bukan menyerahkan nyawa seperti Tuhan Yesus) tersebut serta diperintahkan menyebarkan berita keselamatan yang dari sorga,tanpa membonceng Pemerinbtahan Belanda apa salahnya.Kedatangan Nomensepun karena panggilan karena dia sakit dan dia bernazar memberitakan keselamatan dari sorga dan mengungkap segala rahasia alam roh (ghaib), yang memastikan mana Tuhan mana setan yang harus disembah. Nomensen sudah siap mati seperti penginjil sebelumnya yang telah terbunuh.Kalaupun benar (?) setelah berdiri rumah sekolah, rumah gereja dan rumah kesehatan dan ada yang mau mengganggu dan diberitahukan kepada pemerintahan yang sah pada saat itu, sepertinya sah-sah saja.Karena kita juga tidak tahu kelompok siapa yang membunuh Pdt. Munson/Lyeman. bersukacitalah dansenantiasamengucup syukur dalamsegala hal karena sekarang kita bukancuma warga negara Indonesia tapijuga warga negara Kerajaan Allah). Amin

    Sir Eddy

    15 Juni 2017 at 04:37


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: